Komunitas & Hobi

Di Indonesia juga ada survei virus corona pada hewan peliharaan, apa hasilnya?

Jumat, 21 Februari 2020 | 11:35 WIB   Reporter: Tendi Mahadi
Di Indonesia juga ada survei virus corona pada hewan peliharaan, apa hasilnya?

ILUSTRASI. Jasa Penitipan Hewan Meningkat: Pemeriksaan hewan yang di titipkan di Klinik Hewan De Pets, Cinere, Depok, Jawa Barat, Minggu (26/5). Di Indonesia juga ada survei virus corona pada hewan peliharaan. KONTAN/Baihaki/26/5/2019

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peneliti di Indonesia pernah melakukan survei coronavirus atau virus corona pada kucing dan anjing yang hewan peliharaan. Pada umumnya, virus corona terdapat di dalam satwa liar seperti kelelawar dan tikus, dan menginfeksi saluran pernapasan dan pencernaan antar satwa liar lainnya. 

Akan tetapi, ternyata virus corona juga dapat menginfeksi hewan peliharaan yang banyak dirawat oleh manusia seperti kucing dan anjing. Meski demikian, perlu dicatat bahwa infeksi coronavirus yang disurvei bukan penyebab Covid-19 yang sedang mewabah saat ini. 

Baca Juga: Waduh, jejak virus corona masih ditemui pada pasien yang sudah sembuh

Coronavirus menginfeksi anjing 
Peneliti Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra PhD, menyampaikan bahwa coronavirus yang menginfeksi anjing dinamakan Canine coronavirus (CCoV). Virus CCoV ini dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan dan saluran pernapasan anjing. 

Coronavirus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1971, sebagai penyebab wabah diare pada anjing di Jerman. Kebanyakan infeksi coronavirus ini bersifat subklinis atau tidak menimbulkan gejala sakit. "Kalaupun menimbulkan gejala, jarang yang bersifat fatal atau menyebabkan kematian," kata dia kepada Kompas.com, Rabu (19/2). 

Selain CCoV, ada jenis coronavirus anjing lainnya yaitu CRCoV yang dapat menginfeksi saluran pernapasan dan pertama kali diisolasi dari paru-paru anjing di Inggris. Setelah melalui analisis genetik, ternyata jenis ini berada pada satu kelompok dengan coronavirus asal sapi (HCoV) dan manusia (HCoV-OC43). 

"CCoV kemungkinan berasal dari karnivora liar atau hewan pemakan daging, yang merupakan hasil rekombinasi dari berbagai coronavirus. Karnivora liar juga mungkin berperan sebagai inang perantaranya," tuturnya. 

Baca Juga: Wah, pola makan ala Barat bisa merusak fungsi otak

Di Indonesia, para peneliti pernah melakukan survei pada tahun 1994 yang dilakukan di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara, dengan pertanyaan mendasar apakah ada coronavirus dalam tubuh hewan peliharaan anjing di wilayah tersebut. "Dari total 241 sampel, hasilnya negatif semua," ujar dia. 

Coronavirus menginfeksi kucing 
Sementara itu, coronavirus pada kucing bernama Feline coronavirus (FCoV) biasanya akan menyerang saluran pencernaan. Transmisi pada sesama kucing terjadi melalui rute feses-oral dan frekuensinya akan semakin tinggi apabila ada banyak kucing yang terlibat. 

"Gejala yang muncul biasanya bersifat ringan ataupun subklinis sehingga pengobatan tidak diperlukan," ujar dia. 

Editor: Tendi Mahadi


Terbaru