Fakta suku Baduy, suku di Banten yang ingin dicoret dari destinasi wisata

Rabu, 08 Juli 2020 | 10:29 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Fakta suku Baduy, suku di Banten yang ingin dicoret dari destinasi wisata

ILUSTRASI. Ilustrasi Fakta suku Baduy, suku di Banten yang ingin dicoret dari destinasi wisata. (9/12)


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suku Baduy atau Orang Kanekes, merupakan suku asli Indonesia yang mendiami salah satu wilayah di Kabupaten Lebak, Banten. Menjadi salah satu suku asli yang mendiami pulau padat penduduk, suku Baduy menjadi salah satu daya tarik wisata yang sering dikunjungi wisatawan. 

Letak suku Baduy sendiri ada di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes. Suku Baduy masih memiliki hubungan dengan orang Sunda. Tidak heran jika fisik mereka mirip orang Sunda kebanyakan dan bahasa sehari-hari mereka adalah Bahasa Sunda.

Karena keunikannya, banyak wisatawan yang kemudian penasaran dan ingin melihat lebih lanjut kehidupan suku ini. Wisata suku Baduy kemudian diminati, baik turis lokal maupun luar negeri. Imbas dari banyaknya minat wisatawan untuk mengenal Suku Baduy secara langsung, banyak peraturan adat yang dilanggar wisatawan, salah satunya mengambil foto masyarakat Baduy Dalam dan menyebarkannya.

Baca Juga: Mencari keseimbangan hidup sampai Baduy (1)

Hal ini membuat masyarakat suku Baduy merasa tidak nyaman sehingga meminta pemerintah untuk mencoret wilayah mereka dari destinasi wisata. Bahkan mereka berharap agar Google juga menghapus lokasi mereka. Tanpa berkunjung langsung kesana, Anda bisa mengetahui sejumlah fakta mengenai suku Baduy.

1. Terbagi menjadi 2 kelompok: Baduy Dalam dan Baduy Luar

Dilansir dari biroumum.bantenprov.go.id, suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Dua kelompok ini memiliki perbedaan terutama dalam hal berpakaian. 

Baduy Dalam merupakan kelompok masyarakat Baduy yang sangat teguh memegang adat istiadat leluhur. Mereka sangat menolak teknologi dan modernisasi, sehingga kehidupan mereka masih tradisional. Masyarakat Baduy Dalam umumnya memakai pakaian berwarna putih yang ditenun sendiri. Warna putih melambangkan kesucian, dimana orang Baduy Dalam belum terpengaruh dengan budaya luar.

Baca Juga: Mencari keseimbangan hidup sampai Baduy (2)

Suku Baduy Luar lebih terbuka dengan pendatang, meskipun masih menjunjung tinggi adat istiadat yang ada. Masyarakat Baduy Luar beberapa sudah menggunakan barang-barang modern seperti kasur, bantal, dan beberapa alat elektronik. Pakaian tenun berwarna serba hitam menjadi penanda masyarakat Baduy Luar. 

2. Menjunjung tinggi adat 

Masyarakat suku Baduy sangat berpegang teguh dengan adat istiadat. Mereka menjalankan peraturan leluhur dan menolak segala pengaruh dari luar suku mereka. Orang Kanekes menolak saran pemerintah untuk membangun sekolah dan segala fasilitasnya di wilayahnya. Akibatnya banyak masyarakat Baduy, terutama Baduy Dalam, yang tidak bisa baca tulis. 

Baca Juga: Mencari keseimbangan hidup sampai Baduy (3)

Luhurnya adat yang berlaku di wilayah suku Baduy juga terlihat di kehidupan sehari-hari. Mereka selalu bergotong-royong, serta hidup sederhana. Di wilayah Baduy Dalam, semua tempat tinggal dibuat sama. Yang menjadi pembeda adalah perabotan berbahan tembikar. Status sosial masyarakat suku Baduy dilihat dari jumlah perabotan tembikar yang mereka punya.

Sangat bergantung dengan alam

Profesi utama masyarakat suku Baduy adalah bertani, sehingga keadaan alam sangat menentukan kelangsungan hidup mereka. Banyak aturan yang ada di suku ini bertujuan untuk tetap menjaga kelestarian alam di wilayah Baduy. Larangan tersebut berupa tidak boleh menggunakan bahan kimia seperti sabun dan pasta gigi saat mandi, hingga larangan membuang sampah plastik sembarangan terutama di sungai.

Baca Juga: Lewat daring, Narman angkat produk Suku Baduy

Transportasi dilarang, jalan kaki menjadi hal yang biasa di wilayah suku Baduy

Karena ada larangan penggunaan teknologi, transportasi seperti sepeda motor bahkan sepeda tidak akan terlihat di suku Baduy. Sebagai gantinya, mereka akan berjalan kaki untuk berkunjung ke ladang, rumah kerabat, bahkan saat berkunjung ke ibukota provinsi.

Baca Juga: Ribuan warga Baduy akan membanjiri Serang bulan depan

Saat mengunjungi kota besar, mereka biasa berjalan berkelompok 3 hingga 5 orang. Biasanya masyarakat suku Baduy wilayah lain untuk bersilaturahmi dan menjual hasil bumi mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Tiyas Septiana

Terbaru