Edukasi

Fokus dan Mood Lebih Terjaga? Ini Temuan Studi Tentang Nikotin

Senin, 08 Juni 2026 | 17:59 WIB
Fokus dan Mood Lebih Terjaga? Ini Temuan Studi Tentang Nikotin

ILUSTRASI. TOBACCO-HEALTH-DISEASES-IQOS HMSP (Hannes P. Albert/dpa/via REUTERS)

Reporter: Fahriyadi  | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemampuan untuk tetap fokus dan menjaga suasana hati (mood) yang stabil telah menjadi faktor penting dalam mendukung produktivitas harian seseorang. Menariknya, penelitian menemukan bahwa nikotin berpotensi dapat berperan penting dalam membantu mempertahankan konsentrasi, meningkatkan perhatian, serta mendukung suasana hati yang lebih baik bagi para penggunanya.

Harm Reduction Journal mempublikasikan salah satu studi bertajuk “An exploratory, randomised, crossover study to investigate the effect of nicotine on cognitive function in healthy adult smokers who use an electronic cigarette after a period of smoking abstinence”. Penelitian ini melibatkan 40 perokok dewasa sehat yang diminta tidak mengonsumsi nikotin selama 12 jam sebelum mengikuti lima sesi pengujian. Pada setiap sesi, peserta secara bergantian menggunakan rokok, rokok elektrik dengan berbagai kadar nikotin, dan ada yang tidak menggunakan produk sama sekali. Peneliti kemudian membandingkan perubahan kemampuan fokus dan perhatian, mood, serta keinginan untuk merokok sebelum dan sesudah penggunaan produk.

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan produk yang mengandung nikotin berpotensi meningkatkan kemampuan mempertahankan fokus dan memberikan perbaikan suasana hati dibandingkan ketika peserta tidak menggunakan produk apa pun. Dalam hal mengurangi keinginan untuk merokok, rokok elektrik yang mengandung nikotin juga mampu menekan dorongan merokok secara signifikan.

Baca Juga: Aturan Baru Nikotin dan Bahan Tambahan Berpotensi Tekan Daya Saing IHT

“Ini menunjukkan bahwa rokok elektrik berpotensi menjadi alternatif yang dapat diterima bagi perokok dewasa, yang apabila tidak memiliki pilihan produk lain, kemungkinan akan tetap melanjutkan kebiasaan merokok,” kata Harry J. Green, Penulis Utama studi tersebut, dikutip Senin (8/6/2026).

Menanggapi temuan tersebut, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, mengatakan masyarakat berhak mendapatkan informasi yang utuh, seimbang, dan berbasis sains mengenai nikotin. Menurutnya selama ini nikotin sering keliru dianggap sebagai penyebab utama bahaya rokok.

Padahal, lanjut Paido, berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa risiko kesehatan akibat rokok berasal dari proses pembakaran tembakau yang menghasilkan tar, karbon monoksida, dan ribuan zat toksik lainnya yang terhirup melalui asap rokok. Sementara nikotin adalah zat yang secara alami terkandung dalam tembakau, tetapi bukan penyebab utama penyakit akibat kebiasaan merokok. Oleh karena itu, kuncinya adalah konsumsi nikotin dengan cara berbeda, yaitu tanpa pembakaran.

“Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menjelaskan bahwa nikotin adalah zat adiktif yang membuat orang terus menggunakan produk tembakau, tetapi asap rokok, bukan nikotin itu sendiri, yang menjadi penyebab utama penyakit serius dan kematian pada perokok. Karena itu, informasi publik harus mampu membedakan antara nikotin dan risiko pembakaran,” ungkap Paido.

Terkait temuan ilmiah mengenai potensi efek kognitif nikotin, Paido menekankan bahwa informasi tersebut harus ditempatkan dalam konteks yang tepat. Temuan ini tidak dimaksudkan untuk mendorong non-perokok, anak muda, atau kelompok rentan menggunakan nikotin, melainkan untuk memberikan edukasi holistik mengenai karakteristik zat tersebut.

“Bagi kami, edukasi yang benar adalah edukasi yang tidak menakut-nakuti secara berlebihan, tetapi juga tidak mempromosikan nikotin yang tetap zat adiktif, sehingga penggunaannya tetap harus dibatasi hanya untuk konsumen dewasa, khususnya perokok dewasa yang mencari alternatif dari rokok,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru