Apa Saja Syarat Monetisasi YouTube Short? Ini Ketentuan untuk Kreator

Senin, 10 Agustus 2026 | 12:02 WIB
Apa Saja Syarat Monetisasi YouTube Short? Ini Ketentuan untuk Kreator

ILUSTRASI. Ilustrasi Content Creator, Youtuber (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Penulis: Bimo Adi Kresnomurti  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID -  YouTube Shorts kini menjadi salah satu cara kreator mendapatkan penghasilan dari YouTube. Namun, memiliki banyak penonton atau subscriber saja belum cukup untuk memperoleh pembagian pendapatan iklan Shorts.

Kreator harus memenuhi persyaratan YouTube Partner Program (YPP) dan memastikan konten yang diunggah mematuhi kebijakan monetisasi YouTube.

YouTube juga memperbarui penjelasan kebijakannya terkait konten repetitif. Sejak Juli 2025, kebijakan yang sebelumnya dikenal sebagai repetitious content disebut inauthentic content, dengan penekanan bahwa konten yang massal, repetitif, atau dibuat menggunakan template secara berulang dapat tidak memenuhi syarat monetisasi.

Baca Juga: Aturan Baru YouTube bagi Kreator Konten: Ini Strategi Tembus 4.000 Jam Tonton

Syarat monetisasi YouTube Shorts 2026

Melansir laman Support Google, ada beberapa mendapatkan pembagian pendapatan dari iklan yang tampil di Shorts Feed, jalur utama YPP mensyaratkan:

  • 1.000 subscriber.
  • 10 juta valid public Shorts views dalam 90 hari terakhir.

Alternatifnya, kreator dapat masuk YPP melalui jalur video panjang dengan 1.000 subscriber dan 4.000 jam waktu tonton publik yang valid dalam 12 bulan terakhir. Waktu tonton yang berasal dari Shorts Feed tidak dihitung sebagai bagian dari 4.000 jam tersebut.

Setelah memenuhi syarat dan diterima di YPP, kreator yang ingin memperoleh pendapatan dari Shorts juga harus menerima Shorts Monetization Module.

Pembagian pendapatan Shorts berlaku untuk penayangan Shorts yang memenuhi syarat mulai dari tanggal modul tersebut diterima, bukan untuk view yang diperoleh sebelumnya.

Baca Juga: YouTube Turunkan Syarat Monetisasi Affiliate, 500 Subscriber Bisa Dapat Uang

Ada jalur YPP lebih awal

YouTube juga memiliki expanded YPP di negara atau wilayah yang memenuhi syarat. Jalur ini memberikan akses lebih awal ke sejumlah fitur monetisasi, tetapi bukan berarti kreator langsung mendapatkan pembagian pendapatan iklan Shorts.

Ambang awalnya adalah:

  • 500 subscriber;
  • 3 upload publik yang valid dalam 90 hari terakhir; dan
  • salah satu dari 3.000 jam waktu tonton publik dalam 12 bulan atau 3 juta valid public Shorts views dalam 90 hari.

Dengan demikian, angka 3 juta view Shorts jangan disamakan dengan syarat 10 juta view Shorts untuk memperoleh pembagian pendapatan iklan.

Baca Juga: Ramai IPO Bulan Juli 2026, Apa Syarat Perusahaan Melantai di BEI?

Video Shorts seperti apa yang bisa dimonetisasi?

YouTube pada dasarnya ingin memberikan monetisasi kepada konten yang orisinal, autentik, dan memberikan nilai kepada penonton.

Konten yang dibuat dengan pola serupa masih dapat dimonetisasi apabila setiap videonya mempunyai substansi yang berbeda dan menawarkan nilai kreatif, edukatif, atau hiburan.

Misalnya, sebuah kanal membuat seri video dengan format pembukaan yang sama. Hal tersebut tidak otomatis menjadi masalah selama isi, cerita, informasi, atau sudut pandangnya benar-benar berbeda.

Baca Juga: Iklan YouTube Mengganggu? 8 Cara Ampuh Nonton Bebas Gangguan!

Video Shorts yang berisiko tidak mendapatkan monetisasi

1. Reupload video orang lain

Mengambil video dari TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, atau situs lain lalu mengunggahnya kembali ke Shorts dengan sedikit perubahan dapat dianggap sebagai reused content.

YouTube secara khusus menyebut kompilasi klip acara, video yang dikumpulkan dari media sosial, dan konten yang diunduh dari sumber online tanpa perubahan substantif sebagai contoh konten yang dapat melanggar kebijakan monetisasi.

2. Potongan film, anime, atau acara TV tanpa nilai tambah

Mengunggah potongan adegan film, serial, anime, atau acara televisi dengan sedikit atau tanpa narasi juga berisiko tidak memenuhi kebijakan monetisasi.

Jadi, sekadar memotong adegan menjadi format vertikal dan menambahkan subtitle belum tentu membuat konten tersebut menjadi orisinal.

3. Kompilasi video orang lain

Video seperti kumpulan momen viral dari berbagai akun dapat bermasalah apabila kreator hanya menggabungkan materi tersebut tanpa memberikan komentar, analisis, narasi, atau transformasi yang substansial.

4. Konten yang dibuat massal dengan template sama

YouTube memperjelas bahwa konten mass-produced atau repetitive dapat dianggap sebagai inauthentic content.

Contohnya adalah membuat ratusan Shorts dengan template yang hampir sama, mengganti sedikit teks atau gambar, tetapi tidak memberikan informasi atau nilai baru yang berarti.

Baca Juga: Apa Syarat Patungan Kurban Sapi? Pastikan 4 Poin Penting Ini Sebelum Berkubran

5. Membacakan artikel atau berita orang lain

Kanal yang hanya mengambil teks dari situs, berita, atau materi online kemudian membacakannya tanpa memberikan nilai orisinal juga berisiko ditolak monetisasinya.

YouTube memasukkan konten yang secara eksklusif membacakan materi yang tidak dibuat sendiri, termasuk teks dari situs atau news feeds, sebagai salah satu contoh yang bermasalah.

6. Reaksi tanpa kontribusi yang berarti

Video reaction bukan otomatis dilarang. Namun, jika sebagian besar video hanya menampilkan reaksi nonverbal tanpa komentar atau kontribusi yang berarti, konten tersebut dapat bermasalah dalam penilaian reused content.

7. Konten AI yang dibuat secara massal

Penggunaan AI sendiri tidak otomatis membuat Shorts dilarang monetisasi. Masalahnya muncul ketika AI digunakan untuk memproduksi konten secara massal, repetitif, tidak autentik, atau menyesatkan.

YouTube bahkan memberikan contoh bahwa AI dapat digunakan sebagai alat untuk membantu menghasilkan cerita atau visual yang unik. Yang dinilai adalah nilai dan orisinalitas hasil akhirnya.

Baca Juga: Apa Syarat Menutup Akun BCA Mobile? Ini Panduan dan Ketentuannya

Bagaimana dengan copyright?

Perlu dibedakan antara copyright dan kebijakan reused content. Sebuah video bisa saja tidak mendapatkan copyright claim, tetapi kanalnya tetap dapat bermasalah ketika dinilai untuk monetisasi karena kontennya dianggap reused content.

YouTube secara eksplisit menyatakan bahwa kebijakan reused content terpisah dari penegakan hak cipta.

Karena itu, memiliki izin dari pemilik konten juga tidak selalu berarti sebuah video otomatis memenuhi syarat monetisasi.

Tonton: Danantara Menyerah Hadapi Risiko Whoosh, Saham Dialihkan ke Kemenkeu

Tips agar Shorts lebih aman untuk monetisasi

Kreator dapat memperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Buat materi utama sendiri.
  2. Gunakan suara, narasi, analisis, atau sudut pandang orisinal.
  3. Jika menggunakan materi pihak lain, lakukan transformasi yang substantif.
  4. Hindari sekadar mengumpulkan video viral.
  5. Jangan memproduksi ratusan video dengan template yang nyaris identik.
  6. Pastikan musik, gambar, video, dan materi lain memiliki hak penggunaan yang sesuai.
  7. Hindari judul, thumbnail, atau narasi yang menyesatkan.
  8. Jangan mengandalkan AI untuk membuat konten massal tanpa nilai tambah.
  9. Pastikan seluruh kanal, bukan hanya satu Shorts, mematuhi kebijakan monetisasi.

Pada akhirnya, jumlah view bukan satu-satunya penentu monetisasi YouTube Shorts. Kreator harus memenuhi ambang YPP sekaligus melewati peninjauan kebijakan.

YouTube dapat meninjau tema kanal, video yang paling banyak ditonton, video terbaru, metadata, hingga bagian lain dari kanal ketika menentukan kelayakan monetisasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru