Wisata

Liburan di Dapur Tara: Menikmati Kehidupan Tradisional Flores Tanpa Sinyal

Senin, 13 Juli 2026 | 12:33 WIB
Liburan di Dapur Tara: Menikmati Kehidupan Tradisional Flores Tanpa Sinyal

ILUSTRASI. Suasana di Dapur Tara, Labuan Bajo (KONTAN/Harris Hadinata)

Reporter: Harris Hadinata  | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - LABUAN BAJO. Waktu menunjukkan pukul 18.40 WITA. Para staf Dapur Tara mulai menata meja saji dengan piring, sendok, dan peralatan makan lainnya. Sekitar pukul 18.47 WITA, makanan mulai disajikan di meja saji.

Malam itu, Rabu (8/7/2026), Dapur Tara menyajikan sejumlah kuliner khas Flores kepada para tamu, yang terdiri dari para pengelola Desa BaktiBCA juga sejumlah media yang diundang menghadiri workshop BaktiBCA di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Makanan yang disajikan antara lain ayam asap, sup ayam, sayuran lokal, sambal mangga, hingga nasi kolo. Nasi kolo adalah nasi ketan yang dibumbui dan dimasukkan dalam tabung bambu, lalu dibakar selama sekitar delapan jam.

Nasi kolo ini biasanya disajikan saat upacara adat atau saat menerima tamu. “Ini makanan khas daerah Manggarai,” tutur Elisabet Yani Tararubi, pendiri Dapur Tara.

 

Nasi kolo

 

Menjelang pukul 19.00 WITA, makan malam sudah siap tersaji. Kaka Liz, sapaan akrab Elisabet, mengajak para tamu berkumpul di sekeliling meja saji. “Saya orangnya tepat timing, jadi kalau mulai jam 7 ya kita makan jam 7,” ucap Kaka Liz kepada para tamu dengan logat timurnya yang kental.

 

Liz kemudian menjelaskan satu persatu makanan yang tersaji dan filosofi dari masing-masing menu. Setelah itu, tamu dipersilahkan mengambil makanan. “Bisa ambil sepuasnya, kalau habis nanti ditambah lagi,” sebut wanita asal Maumere ini.

Para tamu kemudian makan duduk secara lesehan di lantai kayu. Liz menuturkan, ia sengaja tidak menyediakan kursi dan meja makan. Sebab, di budaya asli Flores, orang makan duduk di lantai, bukan di kursi.

Baca Juga: Bank Jateng Borobudur Marathon Digelar di Tanggal Ini, Bidik 12.500 Pelari

Memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal Flores memang merupakan misi Dapur Tara. Liz menuturkan, ia mendirikan Dapur Tara lantaran melihat kini banyak anak muda di Flores kini tidak lagi mengetahui budaya lokal.

Ia melihat banyak anak muda Flores tidak bisa memasak makanan lokal, membuat tenunan khas Flores, bahkan tidak memahami adat setempat. Karena itu, di Dapur Tara, ia berusaha mempertahankan adat istiadat setempat.

Liz juga mengajak para tamu untuk merasakan sendiri bagaimana kehidupan tradisional Flores. Inilah yang membuat Dapur Tara unik dan berbeda dengan tempat wisata lain. “Di sini orang-orang yang datang bisa experience kehidupan di Flores,” sebut Liz.

Oh iya, meskipun namanya Dapur Tara, tempat ini bukan sekadar restoran. Di sini juga ada cottage tempat wisatawan bisa bermalam. Tapi ingat, karena tempat ini menawarkan kehidupan tradisional Flores, jangan bayangkan tempat ini seperti homestay di Dieng atau Bromo.

 

Proses pembuatan nasi kolo, Dapur Tara

 

Dapur Tara berlokasi di Liang Ndara, sekitar 18 kilometer dari Bandar Udara Internasional Komodo, Labuan Bajo. Bila menggunakan mobil, butuh waktu sekitar 30 menit hingga 45 menit untuk sampai tujuan, melewati jalan berbukit dan berkelok.

 

Dari pinggir jalan raya, bangunan Dapur Tara juga tidak langsung terlihat. Hanya ada penanda di pinggir jalan yang menyebutkan Anda perlu masuk 200 meter lagi dari jalan raya untuk sampai ke lokasi.

Nah, jalan masuk 200 meter menuju Dapur Tara dari pinggir jalan raya ini bukan lagi jalan aspal yang mulus, tapi jalan berbatu dan cukup menantang, layaknya rute offroad. Jadi, kalau Anda menggunakan mobil berukuran kecil, sebaiknya Anda berjalan kaki dari pinggir jalan.

Yang perlu Anda ketahui, di Dapur Tara tidak ada sinyal telepon dan internet. Listrik juga sesekali mati. Liz menuturkan, dengan tidak adanya sinyal, orang bisa detox dari kehidupan modern dan kembali ke alam.

Baca Juga: Satu Benda Ini Bikin Dapur Kamu Makin Hidup, Personal, dan Menyenangkan, Simak Ya

Kendati begitu, minat orang merasakan dan menjalani kehidupan tradisional Flores tetap tinggi. Liz menuturkan, rata-rata ada sekitar 2.000 pengunjung per tahun yang menjajal kehidupan ala Flores di masa lampau.

Rata-rata, para tamu menginap di sana selama tiga hari, terutama turis domestik. Liz menyebut, wisatawan asing kerap menginap lebih lama. “Ada yang menginap di sini hingga sebulan, mereka healing,” kisah Liz.

Selain bisa merasakan kembali kehidupan tradisional, Dapur Tara juga menawarkan kelas memasak. Para tamu bisa menjajal memasak masakan tradisional Flores. Semua bahan baku berasal dari kebun sendiri, yang dikembangkan tanpa memakai pupuk kimia. “Orang dulu makan dari hasil kebun,” cetus Liz.

Kalau beruntung, para tamu bisa mencicipi sendiri makanan yang mereka buat. Maklum, proses pembuatan makanan secara tradisional bisa jadi membutuhkan waktu lama.

 

Dapur Tara

 

Ketika datang ke sana, jurnalis KONTAN berkesempatan ikut memasak nasi kolo. Namun karena butuh waktu pembakaran hingga delapan jam, ketika waktunya makan malam, yang disajikan adalah nasi kolo yang sudah disiapkan sebelumnya.

 

Oh iya, di Dapur Tara, Anda tidak bisa memilih ingin makan menu apa. Menu yang akan Anda makan adalah menu yang disiapkan hari itu. Tapi Anda akan bisa menikmati hidangan Flores yang mungkin sulit Anda temukan di restoran pada umumnya.

Lantaran memiliki konsep unik tersebut, BaktiBCA menjadikan Dapur Tara sebagai contoh bagi sejumlah Desa BaktiBCA yang berniat mengembangkan gastronomi sebagai daya tarik wisata di daerahnya.

Bank Central Asia mengajak sembilan pengelola Desa BaktiBCA melakukan workshop di Dapur Tara. “Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru