Melihat budaya pecinta kopi dan gaya hidup urban di kedai kopi

Minggu, 12 Desember 2021 | 20:22 WIB   Reporter: Noverius Laoli
Melihat budaya pecinta kopi dan gaya hidup urban di kedai kopi

ILUSTRASI. Melihat budaya pecinta kopi dan gaya hidup urban di kedai kopi

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Komunitas pecinta kopi, Barista Indonesia menyelenggarakan acara virtual dengan tajuk Budaya Pecinta Kopi dan Gaya Hidup Urban di Kedai Kopi. 

Virtual event ini diselenggarakan oleh komunitas pecinta kopi, Barista Indonesia bekerjasama dengan Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) dengan tujuan selain untuk bertukar referensi antar sesama barista dan pecinta kopi dalam menghadapi pertumbuhan kedai kopi yang sangat kompetitif di Indonesia.

Kemudina, mensosialisasikan kesadaran akan pengurangan risiko bahaya yang sebetulnya dapat dikelola dan bahkan dikurangi melalui berbagai cara, seperti dengan menerapkan konsep pengurangan bahaya atau harm reduction

Dalam virtual event tersebut turut menghadirkan Harry Stiadi, Co Founder Barista Indonesia, Dwi Kurnia, owner Notificoffee dan Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo. 

Baca Juga: Kopi Chuseyo membidik pasar komunitas KPOP

Co Founder Barista, Harry Stiadi mengatakan Salah satu penyebab perubahan tren budaya ngopi di kedai kopi di tengah masyarakat urban adalah harga kopi yang kian terjangkau, kepraktisan dalam penyajian serta keragaman rasa yang disesuaikan dengan selera konsumen, padahal tadinya cukup dengan menyeduh kopi instan di rumah.

Sementara Dwi Kurnia, owner Notificoffee menambahkan intensi yang melatarbelakangi pengunjung untuk datang ke kedai kopi ternyata tidak hanya untuk minum kopi saja, tapi rehat/santai, bertemu teman dan pekerjaan. 

“Bahwa meminum kopi tidak hanya melibatkan kebutuhan dosis kafein belaka, melainkan adalah kegiatan psikis yang mengukuhkan identitas individu atau komunitas  di dalamnya. Lewat ruang visual kedai kopi tidak hanya mencitrakan bahwa kedai kopi mereka unik, tetapi pelanggan yang datang akan merasa bahwa mereka juga termasuk dalam golongan tertentu yang tidak dapat disamakan dengan komunitas lainnya,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (12/12). 

Baca Juga: Asti Panjaitan, penjaga warisan leluhur dari Toba Samosir

Salah satu hal yang turut menjadi sorotan dalam acara virtual event tersebut adalah aktivitas minum kopi di kedai kopi biasanya erat dengan kebiasaan merokok. Bagi pengunjung yang merokok, rokok dianggap cocok sebagai teman bersantai sambil ngobrol di kedai kopi. Rokok bukan hanya menjadi kebiasaan saja, tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi pengunjung yang merokok.

Editor: Noverius Laoli
Terbaru