MEMBIDIK PARA PENGGEMAR CHATTING ALA BLAKBERRY MESSENGER

Sabtu, 27 Maret 2010 | 18:42 WIB
MEMBIDIK PARA PENGGEMAR CHATTING ALA BLAKBERRY MESSENGER

ILUSTRASI. Ilustrasi Telkom Indonesia

Reporter: Dessy Rosalina  | Editor: Test Test

Telepon seluler tak cuma berfungsi sebagai alat ngobrol. Ponsel di masa sekarang juga menjadi kendaraan berselancar di dunia maya.

Orang tua ataupun anak muda yang sedang asyik memencet-mencet keypad ponsel jadi pemandangan yang lazim di mal-mal atau tempat publik lainnya di kota besar. Jangan salah, mereka tidak sedang mengirim pesan-pendek, melainkan tengah menggunakan instant messaging.

Situs wikipedia mendeskripsikan instant messaging sebagai komunikasi real time antara dua atau lebih manusia, melalui komputer ataupun telepon seluler yang terhubung dalam sebuah jaringan.

Teknologi pesan instan sudah terbilang tua. Instant messaging generasi pertama lahir di dekade 60-an, mendahului internet, yang baru muncul sekitar satu dasawarsa berikutnya.

Aplikasi instant messaging yang berbasis web, mulai naik daun sejak pertengahan dasawarsa 1990-an. Teknologi chatting di internet kini sudah sedemikian majunya, sehingga banyak aplikasi yang memungkinkan pertukaran file audio-visual.

Demam chatting melalui telepon seluler baru muncul di pertengahan dekade 2000-an. BlackBerry bisa dibilang sebagai pionir chatting via ponsel. Research In Motion (RIM) melengkapi tiap produknya tersebut dengan aplikasi chatting yang bernama BlackBerry Messenger.

Ketenaran BlackBerry dan aplikasi messenger yang biasa disingkat BBM itu, menjadi inspirasi bagi para operator dan produsen ponsel untuk menyediakan fasilitas chatting bagi pasar kelas bawah.

Dalam tiga bulan pertama di tahun ini, sudah ada tiga operator yang menawarkan layanan chatting. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk merilis Flexichatting, aplikasi instant messenger untuk para pelanggan Telkom Flexi, bulan Januari lalu.

Lalu, PT XL Axiata Tbk merilis Nexian Messenger. Layanan ini merupakan kerjasama XL Axiata dengan PT Metrotech Jaya Komunika. Terakhir, Bakrie Telecom merilis Esia Connect.


Layanan chatting yang ditawarkan para operator lokal ini memang berbeda dengan aplikasi BBM milik BlackBerry. Jika BBM memungkinkan chatting lintas operator, tidak demikian halnya dengan instant messenger versi operator lokal.

Meski koneksinya lebih terbatas, namun para operator yakin aplikasi chatting yang mereka tawarkan bakal laris. Penyebabnya sederhana saja. Produk yang menawarkan aplikasi chatting itu harganya jauh di bawah harga BlackBerry. Kini, harga BlackBerry yang termurah masih di atas Rp 2,5 juta. Sedang harga NX-G801, yang dilengkapi aplikasi Nexian Messenger, maupun Esia Connect tidak sampai Rp 1 juta.

"Nexian Messenger bisa menjangkau low segmen yang tidak terjangkau BlackBerry," ujar General Manager Sales XL Axiata, Handono Warih. Pendapat sama juga meluncur dari Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom , Erik Meijer. "Esia Messenger berpotensi lebih populer," ujar dia.

Harga ponsel yang murah itu juga diimbangi dengan tarif chatting yang relatif terjangkau jika dibandingkan tarif BBM. XL menetapkan tarif untuk pengguna Nexian Messenger seharga Rp 500 per hari atau Rp 15.000 per bulan.

Executive Vice President Marketing, Product & CRM Bakrie Telecom, Ridzki Kramadibrata menyatakan, layanan Esia Messenger di Esia Connect bisa diakses secara gratis hingga Juni mendatang. Tapi ada syaratnya. Pengguna harus melakukan isi ulang pulsa minimal Rp 25.000 per bulan. Setelah masa promosi usai, pelanggan cukup membayar Rp 1.000 per minggu.

Selain membidik pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis nilai tambah, operator juga berharap bisa menaikkan loyalitas pelanggan dengan layanan messenger. Alasannya, ya itu tadi. Layanan chatting yang membutuhkan modal murah ini, tidak bisa dinikmati lintas operator.

Bagaimana? Masih tertarik saling tukar menukar pesan melalui messenger lokal?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru