Edukasi

Trakindo Dorong Pelajar Berinovasi Menciptakan Lingkungan Sekolah Ramah Anak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:02 WIB
Diperbarui Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:04 WIB
Trakindo Dorong Pelajar Berinovasi Menciptakan Lingkungan Sekolah Ramah Anak

ILUSTRASI. Program GENERASI (Dok. Trakindo Utama/Trakindo Utama)

Reporter: Tendi Mahadi  | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program GENERASI Trakindo 2026 pada tahun ini mengangkat tema Sekolah Ramah Anak dengan pendekatan Challenge Based Learning (CBL). Program ini mendorong siswa untuk mengenali persoalan di lingkungannya, merancang solusi, dan terlibat langsung dalam menciptakan perubahan bersama warga sekolah.

Hingga 2026, program tersebut telah menjangkau 205 sekolah yang terdiri dari 30 SDN dan SMPN Mitra serta 175 sekolah imbas di 18 provinsi di Indonesia. Sejak 2021, program ini telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan sekolah dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

Program ini berupaya sebagai katalis perubahan, dengan mendorong gagasan yang berangkat dari persoalan sehari-hari menjadi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak.

Untuk mendukung proses tersebut, Trakindo juga memberikan pendampingan dan sumber daya yang dibutuhkan sekolah dalam mengembangkan inovasi. Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin misalnya, guru pendamping menyebut adanya fasilitas riset, pendanaan, dan trainer yang membantu siswa serta guru selama proses pengembangan inovasi.

Baca Juga: Perayaan Kemerdekaan RI Central Park 2 Hadirkan Aniwayang Desa Timun yang Mendunia

Sementara di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Trakindo memberikan pelatihan kepada guru dan siswa mengenai Sekolah Ramah Anak, serta dukungan material untuk membantu proses riset dan pengembangan inovasi.

Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing mengatakan, pengalaman kedua sekolah tersebut menunjukkan pentingnya memberi ruang bagi siswa untuk mengenali persoalan di lingkungan mereka dan mengambil bagian dalam mencari solusinya.

"Bagi kami, keberhasilan Program GENERASI tidak hanya terlihat dari lahirnya inovasi, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian dan kepercayaan diri siswa untuk menjadi bagian dari perubahan,” kata Candy dalam keterangannya, Selasa (18/8).

Bagi seorang anak, sekolah yang ramah sendiri dapat dimulai dari hal sederhana. Seperti merasa aman untuk berbicara, dihargai oleh teman, serta mengetahui ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Baca Juga: Van Dijk Sebut Lini Belakang Baru Liverpool Butuh Waktu untuk Padu

Kondisi ini kemudian mendorong kelompok siswa di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, mengembangkan Papan Kompas (Kontrol Mulut Pastikan Sopan), media pembelajaran berbasis permainan edukatif yang dirancang untuk membantu siswa mengendalikan ucapan melalui sistem penghargaan dan konsekuensi.

Terinspirasi dari papan perkalian yang biasa digunakan di kelas, lalu dikembangkan menjadi permainan bertema petualangan agar lebih menarik dan mudah dipahami oleh teman-temannya.

Nur Fazrian, perwakilan kelompok siswa SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, merasakan suasana kelas menjadi lebih nyaman dan siswa mulai terbiasa saling menghargai.

Sedangkan di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, sebagian siswa masih enggan datang ke ruang Bimbingan Konseling (BK) karena khawatir dianggap sebagai siswa bermasalah. Mereka justru lebih nyaman berbicara dengan guru BK di luar ruang konseling, seperti di taman atau sudut sekolah.

Kondisi tersebut kemudian mendorong para siswa mengembangkan Perisai Pintar, sebuah aplikasi yang memungkinkan siswa menyampaikan cerita maupun keluhan secara anonim kepada guru BK. Sebelumnya, sekolah telah menyediakan kotak curhat sebagai ruang bagi siswa untuk menyampaikan cerita, tetapi penggunaannya belum berjalan efektif.

Pengalaman tersebut mendorong siswa mencari pendekatan yang menurut mereka lebih sesuai dengan kebiasaan teman-temannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Terbaru