KONTAN.CO.ID - Penerbit Buku Kompas meluncurkan dua buku karya Adi Prinantyo, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, berjudul Ragam Warna Sepak Bola dan Sepak Bola Kita Semua, di Kompas Institute, Jakarta, Jumat (5/6) lalu.
Kedua buku ini merupakan rekaman perjalanan dua dekade liputan sepak bola nasional dan dunia yang mengungkap sepak bola Indonesia bukan sekadar tertinggal secara prestasi, tetapi juga penuh dengan persoalan sistemik yang belum terselesaikan.
Adi Prinantyo menegaskan, akar masalah sepak bola Indonesia terletak pada lemahnya sistem pembinaan usia dini dan minimnya profesionalisme dalam pengelolaan kompetisi.
"Negara lain itu sudah punya pemain sejak dari di bawah 10 tahun. Sistem itu harus dibangun dulu. Kalau klub nggak punya pembinaan berjenjang, maka dia sebetulnya tidak punya hak secara kualitas untuk menjadi kontestan liga," ujar Adi di sela-sela peluncuran bukunya di Kompas Institute, Jumat (5/6).
Ia juga menyoroti sanksi terhadap klub yang tidak memenuhi syarat kompetisi tidak boleh dikompromikan.
Baca Juga: The Art of Simple Leadership, Perjalanan Hidup dan Filosofi Kepemimpinan
Menurutnya, federasi dan manajemen liga di Indonesia harus benar-benar bersih dari konflik kepentingan, agar kompetisi dapat berjalan secara profesional dan melahirkan pemain domestik berkualitas.
"Harus bersih kepentingan dari federasi dan manajemen liga untuk mengulirkan liga. Kalau masih ada konflik-konflik tersebut, jangan harap liga kita bisa profesional dan melahirkan pemain-pemain domestik yang berkualitas," ungkap Adi.
Adi juga mengangkat kisah Jepang sebagai cermin bagi Indonesia. Ia bilang, Jepang pernah bertanya kepada Indonesia soal format kompetisi Galatama yang lebih dulu eksis. Namun, kini justru Jepang yang jauh melampaui Indonesia dalam hal kualitas sepak bola.
"Jepang kemudian mencari format kompetisi ideal, salah satunya ada yang bertanya ke Indonesia, kompetisi Galatama yang lebih dulu eksis," terangnya.
Kedua buku ini merupakan dokumentasi liputan sepak bola Adi Prinantyo selama periode 2005 hingga 2025.
Ragam Warna Sepak Bola berfokus pada dinamika sepak bola nasional, sementara Sepak Bola Kita Semua menelusuri sepak bola dunia, mulai dari Piala Dunia, liga-liga Eropa, hingga sosok-sosok legendaris seperti Maradona, Messi, dan Jürgen Klopp.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News