HOME

Seni bela diri Ninja di Jepang kunci untuk bertahan hidup

Senin, 03 Agustus 2020 | 18:04 WIB Sumber: Reuters
Seni bela diri Ninja di Jepang kunci untuk bertahan hidup

ILUSTRASI. Genichi Mitsuhashi, 45, orang pertama yang memegang gelar sarjana dari program studi ninja Universitas Mie, mengajar seni bela diri kepada tamu di ruang pelatihan di sebelah rumahnya di Iga, Prefektur Mie, Jepang Tengah 30 Juli 3020. Foto diambil 30 Juli

KONTAN.CO.ID -  IGA. Ninja merupakan salah satu seni bela diri asal Jepang yang banyak diketahui lewat film dan fiksi. Namun keberadaan prajurit-prajurit rahasia Jepang ini benar-benar nyata. Bahkan studi tentang Ninja juga diajarkan di Negeri Sakura tersebut.

Genichi Mitsuhashi, 45 tahun, merupakan salah satu Ninja berpakaian hitam di era modern. Ia merupakan lulusan pertama yang mendapat gelar sarjana dari Universitas Mie, Jepang, tentang studi Ninja.

Tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya,  Mitsuhashi, sehari-hari menjadi petani, seperti halnya kehidupan yang dilakoni para Ninja di zaman sebelumnya di Jepang.

Baca Juga: Wiranto ditusuk menggunakan senjata Ninja

Mitsuhashi mengatakan, ia tertarik mempelajari seni bela diri ala ninja karena sangat bermanfaat bagi kehidupan. Bahkan menurutnya seni bela diri Ninja merupakan kunci untuk bertahap hidup.

Hal itu berdasarkan pengalamannya sendiri saat ia dicegat dengan todongan senjata selama ia tinggal di Brasil pada usia 19 tahun. Ia berhasil membebaskan dirinya karena kemahirannya dalam ilmu bela diri Ninja.

"Anda diizinkan menggunakan senjata atau memanfaatkan tubuh musuh Anda," kata Mitsuhashi, menjelaskan bagaimana ia tertarik untuk belajar tentang Ninja, seperti dilansir Rueters.

Baca Juga: Iko Uwais dikabarkan bakal main film produksi Hollywood lagi

“Kamu bisa menggunakan apapun yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup. Ini didasarkan pada kenyataan. Itu membebaskan dan fleksibel," tambahnya.

Mitsuhashi adalah yang pertama dari tujuh siswa yang terdaftar untuk menyelesaikan program dua tahun tentang sejarah Ninja, tradisi, pertempuran dan teknik bertahan hidup, lengkap dengan dua hari kerja lapangan, diluncurkan pada 2018 oleh Universitas Mie, barat daya Tokyo.

Editor: Noverius Laoli


Terbaru