Tokoh

Ada jejak miliarder Indonesia di kamp pengungsi Palestina dan Suriah di Timur Tengah

Senin, 14 Juni 2021 | 17:00 WIB   Reporter: Sandy Baskoro
Ada jejak miliarder Indonesia di kamp pengungsi Palestina dan Suriah di Timur Tengah

ILUSTRASI. Dato Sri Tahir - CEO Mayapada Group. Foto Dok. Pribadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kegiatan filantropi tidak memandang latar belakang identitas, bahkan aktivitasnya menembus batas wilayah dan negara.

Sejatinya Indonesia memiliki sederet filantropis yang aktivitas dan jangkauan donasinya cukup luas hingga mancanegara. Satu di antaranya adalah Dato' Sri Tahir.

Baca Juga: Mengoleksi Cuan dari Karya Virtual Berbasis Kripto

Dalam beberapa tahun terakhir, pemilik Grup Mayapada ini mengunjungi sejumlah negara di Timur Tengah. Tahir memberikan bantuan kepada para pengungsi yang terpaksa meninggalkan kediamannya akibat konflik, seperti terjadi di Suriah dan Palestina.

"Keyakinan saya, dengan memberi, maka kamu akan mendapatkan. Seperti diajarkan semua agama, kekayaan yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Kita hanya mengelolanya dan terserah kita untuk menjadi manajer yang baik," ungkap Tahir dalam pernyataan resmi yang diterima KONTAN, baru-baru ini.

Untuk para pengungsi Palestina, misalnya, Tahir pada tahun 2019 memberikan bantuan senilai Rp 5 miliar melalui United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA).

Baca Juga: Pemilik Djarum tak tergoyangkan, ini 15 orang terkaya Indonesia 2021

Bukan hanya itu, jejak Tahir di Timur Tengah sudah terlihat beberapa tahun sebelumnya. Pada 2016, pendiri Tahir Foundation ini menyumbangkan US$ 10 juta untuk mendukung pendidikan anak-anak pengungsi di seluruh dunia.

Jumlah tersebut merupakan tambahan dari donasi US$ 2 juta yang dia sumbangkan sebelumnya di tahun yang sama untuk kampanye Nobody Left Outside United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Bantuan ini bertujuan menyediakan tempat penampungan bagi 2 juta pengungsi pada tahun 2018.

Masih di tahun 2016, orang terkaya nomor 10 di Indonesia versi Forbes ini juga mengunjungi pengungsi Suriah di Yordania, yang menampung lebih dari 650.000 pengungsi. Tahir menyumbangkan tambahan US$ 1 juta untuk program bantuan tunai UNHCR bagi pengungsi Suriah di Yordania serta menanggung 10.000 jaket untuk melindungi mereka di musim dingin.

Pada tahun 2017, Tahir kembali ke Jordania dengan memberikan total US$ 2,2 juta untuk membantu kesejahteraan para pengungsi Suriah. Perinciannya, dia mengucurkan US$ 1 juta dalam bentuk tunjangan (US$ 80 per keluarga per bulan) serta menyediakan US$ 1,2 juta untuk memasang panel surya di sekolah-sekolah yang mendidik anak-anak Suriah.

Baca Juga: Daftar miliarder Indonesia terbaru 2021 dan nilai kekayaannya

Saat berkunjung ke kamp pengungsian Azraq - Yordania, Tahir menyisihkan dana perwalian pendidikan senilai US$ 200.000 untuk pendidikan lima anak Suriah. Semula anak yang akan diadopsi hanya satu orang, namun UNHCR menyarankan Tahir mengadopsi lima anak sebagai cucunya.

Kelima anak itu adalah Amani (15 tahun), Manal (13), Malak (11), Muhammad (9) dan Syam (8). Kini keluarga tersebut sudah tinggal di Damaskus, Suriah.

Atas aktivitas filantropi dan dukungan kepada para pengungsi, pada tahun 2016, UNHCR yang merupakan badan PBB untuk urusan pengungsi, menunjuk Tahir sebagai Eminent Advocate. Ini merupakan salah satu gelar kehormatan yang paling bergengsi dari UNHCR. Gelar ini diberikan kepada pihak-pihak yang mendukung kegiatan kemanusiaan dan paling berpengaruh.

UNHCR memberikan Eminent Advocate kepada tiga orang. Selain Tahir, gelar tadi diberikan kepada Hamdi Ulukaya dari Amerika Serikat dan Jawaher Al Qassimi dari Uni Emirat Arab.

Selanjutnya: Inilah 5 menteri paling tajir di Kabinet Presiden Jokowi, berapa nilai kekayaannya?

Editor: Sandy Baskoro
Terbaru