Apa itu cancel culture yang seringkali menimpa aktris Korea? Ini sejarahnya

Kamis, 21 Oktober 2021 | 09:59 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Apa itu cancel culture yang seringkali menimpa aktris Korea? Ini sejarahnya

ILUSTRASI. Cancel culture atau budaya penolakan yang masih menjadi budaya hukuman bagi masyarakat maupun selebriti Korea 


KONTAN.CO.ID - Cancel culture adalah kata yang biasanya muncul saat seorang aktor maupun aktris terkena skandal. Ada beberapa negara yang kerap menerapkan cancel culture yakni Korea Selatan dan Amerika Serikat. 

Terbaru, aktor terkenal Korea Selatan, Kim Seon Ho pun mengalami cancel culture usai skandalnya yang telah melakukan gaslighting dan memaksa mantan pacarnya menggugurkan kandungan. 

Daftar Isi

Dikutip dari Kompas.com (21/10/2021), bintang drama Hometown Cha-Cha-Cha tersebut telah menulis surat terbuka yang berisi permintaan maaf atas perilakunya di masa lalu dan telah mengecewakan penggemarnya. Bahkan, Kim Seon Ho mengemukakan keinginannya untuk bertemu langsung sang mantan kekasih untuk meminta maaf langsung. 

Tak hanya Kim Seon Ho, agensinya, SALT Entertainment juga meminta maaf atas perbuatan sang aktor di masa lalu. Skandal tersebut pun berdampak terhadap karier Kim Seon Ho yang tengah naik daun. 

Kim Seon Ho kini tak lagi terlibat pada semua iklan atau promosi Domino's Pizza Korea di media sosial. Selain itu, Kim Seon Ho juga telah mengalami pembatalan sejumlah kontrak kerja sama. 

Lantas, apa itu cancel culture yang menimpa Kim Seon Ho? 

Baca Juga: Daftar aktor dan drakor terpopuler minggu kedua Oktober, Kim Seon Ho ada di puncak

Sejarah cancel culture

Sejarah cancel culture sebenarnya telah dimulai sebelum maraknya penggunaan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Dikutip dari The New York Times, pada 1991 terdapat frasa baru dalam bahasa gaul di China yakni "renrou sousuo", secara harfiah diterjemahkan sebagai “human flesh search.”

Istilah tersebut mengacu pada upaya kolektif oleh pengguna internet di China untuk menjawab pertanyaan atau mencari informasi tentang orang-orang tertentu. Mereka menggabungkan pencarian online dengan informasi yang diperoleh secara offline dan memposting hasilnya secara publik. 

Paling sering tujuannya adalah untuk mengidentifikasi individu yang dicurigai melakukan korupsi atau memiliki tindakan yang menyimpang secara moral. 

Setelah itu, tokoh atau orang yang datanya dicari dan diposting tersebut akan mendapatkan kecaman secara verbal dan dikeluarkan dari komunitas.

Hal inilah yang kini menjadi sejarah cancel culture dan mulai marak dilakukan sejak 2017 dan semakin populer hingga kini. 

Baca Juga: Drakor Lovers of The Red Sky raih rating tinggi, kembali kalahkan King's Affection

Penerapan cancel culture

Sehingga, cancel culture adalah bentuk pengucilan modern di mana seseorang didorong keluar dari lingkaran sosial atau profesional mereka baik secara online yakni di media sosial maupun di kehidupan nyata. 

Sementara, Lisa Nakamura, seorang profesor di University of Michigan mengatakan kepada The New York Times pada tahun 2018 bahwa cancel culture adalah "boikot budaya" terhadap selebriti, merek, perusahaan, atau konsep tertentu.

Saat ini, salah satu negara yang seringkali melakukan cancel culture adalah Korea Selatan. Cancel culture di Korea Selatan biasanya dilakukan terhadap tokoh publik atau selebriti Korea yang tersandung skandal. 

Bentuk cancel culture di Korea pun bermacam-macam seperti pembatalan sejumlah kontrak kerja sama, pengurangan scene dalam sebuah drama, penghapusan peran, boikot dan jumlah fans berkurang. 

Selanjutnya: Kim Seon Ho & Hometown Cha-Cha-Cha puncaki popularitas drakor di minggu kedua Oktober

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Virdita Ratriani

Terbaru