Niat pemerintah melakukan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi belum pudar. Salah satu opsi yang pemerintah pilih adalah mengalihkan penggunaan BBM bersubsidi ke bahan bakar gas (BBG).
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara tegas mengimbau para agen tunggal pemegang merek (ATPM) untuk mendesain mesin mobil dengan converter kit sehingga bisa memakai BBG mulai 2014 nanti.
Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengungkapkan, kementeriannya sudah melakukan diskusi secara informal dengan ATPM terkait dengan permintaan SBY itu.
Persoalannya, sampai saat ini, masih banyak kalangan yang meragukan keamanan converter kit sebagai alat pengalih sistem bahan bakar kendaraan ke gas.
Kurtubi, pengamat energi, menilai, jika kualitas bahan baku converter kit tidak memenuhi syarat, bukan mustahil alat itu bisa menimbulkan kebocoran yang menyebabkan tabung meledak.
Menurut Kurtubi, kualitas bahan baku converter kit antara lain ketebalan baja dan las sambungan pada tabung. "Bila bahan baku, pemasangan, dan pemeliharaan alatnya tidak benar, bisa menimbulkan risiko," kata dia.
Kelemahan lain dari converter kit adalah purnajual alat ini. Saat ini, setahu Kurtubi, bengkel pemasangan converter kit hanya ada di daerah Serpong, Tangerang Selatan. "Harus ada bengkel khusus yang memiliki sertifikat dari pemerintah untuk melayani pemasangan dan perawatan alat itu," imbuhnya.
Soehari Sargo, pengamat otomotif, menambahkan, dengan mengalihkan konsumsi BBM ke BBG, masyarakat diarahkan untuk memahami karakteristik dari converter kit. "Masyarakat harus berhati-hati terhadap keamanan alat ini," pesan dia.
Selain itu, penggunaan BBG juga berpotensi menyebabkan kerusakan mesin kendaraan. Dalihnya, jika memakai gas, pembakaran mesin tidak basah alias kering. Berbeda dengan BBM yang masih ada sisa pembakaran. Ini membantu pelumasan di silinder mesin. Efek samping dari pembakaran yang kering, mesin lebih cepat rusak. "Kalau mesin rusak, apakah pemakaian converter kit ada garansinya?" tanya Soehari.
Untuk itu, Soehari meminta para ATPM untuk menyosialisasikan penggunaan converter kit kepada pemilik mobil. Selain itu, menyediakan pelumas khusus untuk mesin yang menggunakan BBG.
Pun begitu, Soehari bilang, converter kit punya sejumlah keunggulan. Emisi pembakaran yang dihasilkan, misalnya, lebih rendah dibandingkan mesin yang memakai BBM. Jadi, emisi gas yang dihasilkan ramah lingkungan.
Kurtubi menimpali, dengan converter kit, biaya pemeliharaan menjadi mobil lebih murah. Jika mobil yang menenggak BBM biasa ganti oli tiap 5.000 kilometer, dengan BBG, ganti oli bisa 10.000-15.000 kilometer. Indonesia juga tidak tergantung impor BBM. Sebab, di perut bumi Indonesia cadangan gas lima kali lipat dari cadangan minyak. Jadi, "Suplai gas sampai 50 tahun cukup," ujar Kurtubi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News