KONTAN.CO.ID - Hadirnya e-commerce memberikan pengalaman berbelanja yang nyaman dan praktis bagi konsumen. Namun, tren belanja online yang terus meningkat juga dimanfaatkan pelaku kriminal untuk menipu konsumen yang lengah.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat, pengaduan soal e-commerce menempati tiga besar kasus selama lima tahun terakhir. Keluhan atau penipuan belanja melalui e-commerce bahkan pernah menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan konsumen.
“Yang diadukan konsumen itu dominan menyangkut barang yang tidak sampai. Konsumen telah membeli barang tersebut dan sudah membayar tapi barangnya tidak sampai,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi.
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), jumlah kasus penipuan online mencapai 130.000 pada 2022 lalu.
“Masyarakat kita itu paling mudah ditipu secara online dan penipuan online sangat tinggi di Indonesia, laporan ke kami tahun lalu sudah lebih dari 130 ribu,” ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan.
Penipuan belanja online kerap terjadi karena konsumen terdorong untuk membeli barang akibat dilanda rasa FOMO (Fear of Missing Out) atau tidak ingin ketinggalan tren. Lantaran takut kehilangan momen, konsumen menjadi kurang teliti dan tidak berhati-hati dalam bertransaksi.
“Pelaku memanfaatkan psikologis konsumen yang dikenal dengan FOMO atau ketakutan tertinggal dari tren terkini,” papar pakar keamanan siber dan forensik digital dari Vaksincom, Alfons Tanujaya.
Agar terhindar dari penipuan belanja online, konsumen dapat melakukan sejumlah cara, diantaranya mewaspadai harga barang yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasar. Selain itu, untuk menjamin orisinalitas dan kualitas produk sebaiknya memilih berbelanja di toko resmi merek yang dituju.
Belakangan ini telah ditemukan sebuah ‘virus’ baru yang mengincar konsumen e-commerce. Meski demikian, virus baru bernama VOMO ini diyakini dapat mencegah konsumen terjebak dalam kecemasan ketinggalan tren. Bahkan, VOMO digadang-gadang bisa meningkatkan perlindungan terhadap konsumen belanja online.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Kontan.co.id, saat ini para peneliti masih terus melakukan kajian terhadap asal usul virus VOMO dan apa efek sampingnya terhadap konsumen e-commerce.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News