HOME

Sensasi mendaki Gunung Purba di Nglanggeran, Yogyakarta

Sabtu, 23 November 2019 | 08:10 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Sensasi mendaki Gunung Purba di Nglanggeran, Yogyakarta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mendaki ke gunung tertinggi di mana pun selalu memberikan sensasi berbeda. Tapi bagaimana mendaki gunung berapi yang sudah lama tidak aktif? Meskipun menegangkan, tapi kesempatan ini bisa Anda rasakan di Gunung Api Purba Nglanggeran, Yogyakarta.

Gunung yang terletak di Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul ini merupakan gunung berapi aktif sekitar 60 juta tahun lalu. Gunung ini memiliki bebatuan besar yang menjulang tinggi sehingga biasanya digunakan sebagai jalur pendakian dan tempat untuk pertapaan warga.

Wisatawan bisa menapaki puncak tertinggi gunung api purba itu. Apabila berangkat sore, wisatawan dapat menyaksikan matahari yang terbenam.

Baca Juga: Sudah turun hujan, seluruh jalur pendakian Gunung Lawu kembali dibuka

Selain itu, pengunjung juga perlu menggunakan tali untuk mendaki bukit-bukit yang pendek. Ada papan petunjuk yang membuat wisatawan tidak mudah tersesat.

Perjalanan menuju puncak gunung akan melewati jalanan tanah serta lorong-lorong berbukit. Untuk sampai ke puncak gunung, bisanya jarak pendakian yang ditempuh kurang lebih dua jam.

Uniknya, ada spot-spot menarik yang wajib dikunjungi, misalnya saja Song Gudel. Sebuah gua berukuran kecil dengan bongkahan batu raksasa di sisi atas dan kiri. Berdasarkan cerita warga, ada seekor Gundel (anak kerbau) yang dimakan oleh harimau di gua (song).

Baca Juga: BMKG: Hari ini hujan deras bisa turun di Jakarta, Jawa Barat, dan 12 provinsi lain

Dari peristiwa itu, masyarakat Nglanggeran menyebut lokal ini dengan nama Song Gundel. Banyak pengunjung memanfaatkan lokasi ini untuk berswa foto, karena bentuknya menarik mereka bisa berfoto seakan manusia super yang mengangkat baru berukuran raksasa.

Adapula lorong jalur pendakian yang melewati batu yang mengapit jalan setapak ketika menanjak ke atas sehingga terbentuk sebuah lorong sempit disebut dengan Lorong Sumpitan. Lorong dengan panjang 50 meter ini menawarkan perjalanan pendakian menantang karena wisatawan harus melewati himpitan dinding bebatuan yang sempit.

Menanjak ke atas terdapat sumber mata air comberan. Sebenarnya ini hanyalah kolam kecil berisi air, yang biasa digunakan warga untuk pertapaan dan pemujaaan yang terkesan mistis. Di sekitarnya terdapat pohon beringin tua dan terdapat sebuah prasasti tapak syahdatain.

Baca Juga: Gunung Merapi erupsi, adakah kaitannya dengan gempa Sleman?

Tempat ini digemari wisatawan karena cuacanya sejuk dan melewati tangga tataran yang dibuat pada zaman Jepang. Dulunya lokasi ini digunakan sebagai tempat persembunyian tantara Jepang. Ai sumber comberan diyakini dapat membuat awet mud ajika digunakan untuk mencuci muka.

Ketua Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran Mursidi mengatakan, harga tiket masuk untuk menikmati wisata alam Yogyakarta ini sebesar Rp 15 ribu untuk siang hari, sedangkan malam hari Rp 20 ribu. Dalam sebulan terdapat 11 ribu -12 ribu pengunjung baik wisatawan lokal maupun asing.

“Momen ramai itu di sini pada waktu weekend atau hari libur untuk pengunjung umum,” kata Mursidi di Yogyakarta, pekan lalu.

Selain wisata pendakian, ada banyak potensi budaya dan ekowisata di situs gunung api tersebut. Sejak 2008, Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengelola dan menambah berbagai fasilitas homestay untuk tempat menginap. Wisawatan juga bisa menikmati kegiatan ala pedesaan mulai dari bertani, peternakan, berkebun dan kesenian.

Baca Juga: Gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom letusan 1.000 meter

Biasanya paket wisata ini gemari oleh wisatawan asing. Mereka ingin belajar bagaimana adat budaya dan kegiatan warga setempat. Pengunjung asing yang data berasal dari dari negara Kanada, Swiss, Polandi, Australia, Prancis, Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan negara lainnya.

Untuk menikmati fasilitas homestay Anda hanya perlu mengeluarkan kocek mulai dari Rp 150 ribu per hari. Itu termasuk fasilitas makanan, tiket masuk gunung purba serta asuransi bagi pengunjung.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto


Terbaru