Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uhamka, Tellys Corliana menyatakan, kegiatan ini merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dari luar kelas. Pada prinsipnya, literasi dapat membuat mahasiswa lebih kritis dalam menyikapi dunia digital yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
“Teknologi digital itu ibarat senjata bermata dua, yakni bisa bermanfaat, tapi kalau salah, menjadi sumber kesesatan. Selama ini, investasi digital banyak yang menggiurkan, seolah-olah bisa menjadi cara untuk cepat kaya. Padahal, ini harus dikritisi,” ujar dia.
Odang Supriatna menambahkan, kegiatan literasi ini sangat bermanfaat, karena melibatkan beberapa pelaku pasar sekaligus akademisi, influencer, dan praktisi media sosial.
Dengan demikian, peserta tidak saja disuguhi ilmu berkaitan dengan industri perdagangan berjangka komoditas (PBK), namun diberikan kesadaran (awareness) bahwa industri ini memberi peluang menjadi analis, influencer, digital marketing, trader, dan advicer.
Manfaat lainnya, kata dia, peserta mendapatkan pembekalan bahwa untuk menjadi pelaku pasar di industri PBK, memerlukan pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang memadai. Peserta diberi kesempatan belajar di SAS untuk mendapatkan hal tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News