Edukasi

Smartin Dorong Mitigasi Risiko lewat Pemanfaatan Teknologi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:46 WIB
Smartin Dorong Mitigasi Risiko lewat Pemanfaatan Teknologi

ILUSTRASI. Smartin menggandeng Uhamka untuk mendorong budaya investasi generasi muda (Dok. Smartin/Smartin)

Reporter: Tendi Mahadi  | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Smartin Advisor Sistem (SAS) dan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) berkolaborasi menggulirkan literasi keuangan dan investasi mahasiswa dengan tujuan membangun budaya investasi di generasi muda. Literasi ini juga diharapkan membantu generasi muda lebih berhati-hati dalam berinvestasi melalui strategi manajemen risiko.

Kegiatan ini dilakukan melalui diskusi bertajuk Digital Literacy to Financial Resilience: Membangun Generasi Kritis di Tengah Ekonomi Investasi Digital. Pada kesempatan ini, Smartin juga menghadirkan Smartin Investment Club di Uhamka yang beranggotakan para mahasiswa.

Klub investasi ini menjadi platform literasi keuangan berkelanjutan. Lebih jauh lagi, Smartin Investment Club diharapkan bisa melahirkan talenta baru untuk memperkuat ekosistem industri keuangan Indonesia, mulai dari perdagangan saham, kripto, futures, bahkan sektor perbankan dan asuransi.

Dupoin Futures memberikan dukungan penuh terhadap literasi keuangan dan investasi yang diselenggarakan oleh Smartin, khususnya dengan Uhamka. Uhamka dipilih sebagai tempat kegiatan literasi, karena minat investasi mahasiswanya sangat tinggi, tetapi aksi masih terbatas.

Baca Juga: Chelsea Amankan Masa Depan Gelandang Serang Cole Palmer dengan Kontrak hingga 2034

Berdasarkan hasil survei terhadap mahasiswa Uhamka, mayoritas responden sepakat investasi harus dilakukan sejak usia muda. Universitas milik Muhammdiyah, organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar kedua di Indonesia dengan anggota lebih dari 60 juta orang, tersebut juga terbuka untuk literasi investasi. Maklum, sebanyak 40% responden mengaku berencana untuk berinvestasi.

Tetapi, hasil survei memerlihatkan, mayoritas mahasiswa alias 45% belum memiliki instrumen investasi. Sebanyak 15% sudah punya investasi dan 40% berencana untuk berinvestasi. Mereka yang sudah berinvestasi di saham maupun di futures dan aset digital mayoritas memanfaatkan teknologi untuk mitigasi risiko (50%).

Mereka yang tidak melakukan trading atau investasi digital dipicu oleh beberapa faktor, yakni 60% karena belum tahu peluang yang ada, belum ada modal 35%, dan menilai trading tidak halal 5%. Terpenting, mayoritas mahasiswa mengaku bahwa perlu ada klub investasi, yakni 75%, sedangkan hanya 5% yang merasa tidak perlu klub tersebut. Sisanya, 20% mengaku tidak tahu.

"Kami menggelar literasi investasi bagi intelektual muda agar dapat membantu mereka lebih prudent dalam berinvestasi. Selain itu, kami membangun budaya berinvestasi lewat kehadiran Uhamka-Smartin Investment Club yang beranggotakan para mahasiswa," ujar Philip Chan, Chief Business Officer Dupoin Group International dalam keterangannya, Kamis (15/10).

Baca Juga: Panduan Cara Pakai Parent-Managed Accounts WhatsApp untuk Awasi Anak

Philip menyatakan, literasi keuangan dan investasi sangat penting di era saat ini. Oleh sebab itu, Dupoin mendukung inisiatif Smartin menggelar literasi sekaligus mendirikan klub investasi di Uhamka. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan para mahasiswa untuk belajar dan praktik investasi yang bakal bermanfaat kala memasuki dunia kerja.

Klub investasi ini, kata dia, diharapkan bisa melahirkan talenta-talenta baru di sektor keuangan. Mereka bisa diserap oleh perusahaan pialang berjangka resmi seperti Dupoin, lalu industri asuransi, perbankan, hingga Bittime.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uhamka, Tellys Corliana menyatakan, kegiatan ini merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dari luar kelas. Pada prinsipnya, literasi dapat membuat mahasiswa lebih kritis dalam menyikapi dunia digital yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. 

“Teknologi digital itu ibarat senjata bermata dua, yakni bisa bermanfaat, tapi kalau salah, menjadi sumber kesesatan. Selama ini, investasi digital banyak yang menggiurkan, seolah-olah bisa menjadi cara untuk cepat kaya. Padahal, ini harus dikritisi,” ujar dia.

Odang Supriatna menambahkan, kegiatan literasi ini sangat bermanfaat, karena melibatkan beberapa pelaku pasar sekaligus akademisi, influencer, dan praktisi media sosial.

Dengan demikian, peserta tidak saja disuguhi ilmu berkaitan dengan industri perdagangan berjangka komoditas (PBK), namun diberikan kesadaran (awareness) bahwa industri ini memberi peluang menjadi analis, influencer, digital marketing, trader, dan advicer.

Manfaat lainnya, kata dia, peserta mendapatkan pembekalan bahwa untuk menjadi pelaku pasar di industri PBK, memerlukan pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang memadai. Peserta diberi kesempatan belajar di SAS untuk mendapatkan hal tersebut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Terbaru