KONTAN.CO.ID - Sebagian masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, tak asing dengan olahan bernama garang asem. Bahan baku utama biasanya daging ayam dan belimbing sayur. Lantas, racikan ayam berbumbu dan belimbing sayur ini dibungkus daun pisang dan dikukus.
Penasaran seperti apa rasanya? Anda bisa mencicipinya di rumah makan Garang Asem Trancam TW di Margonda, Depok. Umumnya memang garang asem berbahan baku daging ayam. Tapi di kedai ini, selain ayam, ada pula garang asem bebek dan iga sapi.
“Kami juga menawarkan garang asem dengan level kepedasan berbeda, mulai level 1 yang pakai dua cabai sampai level 7 dengan 50 cabai,” jelas Susi Andreawati, salah satu pengelola rumah makan.
Langsung yuk, cobain! Sekalipun garang asem di rumah makan ini ready stok, tapi tetap disajikan dalam kondisi panas. Makanya ketika lidi penyemat dibuka, asapnya langsung menyeruak. Potongan ayam yang melekat dengan bumbu tampak dengan aroma rempah. Yang terlihat antara lain daun jeruk dan sereh. Tak ketinggalan, irisan belimbing sayur.
Nah, cara meracik garang asem ada banyak macamnya. Garang asem di Margonda ini mengadopsi ala Solo. Bumbunya menggunakan santan. Sehingga ketika bungkusnya dibuka, terlihat bumbu dan santannya yang kental melekat pada daging ayam. Sementara garang asem ala Semarang, menurut Susi, tidak pakai santan sehingga kuahnya bening.
Begitu dicolek, ayamnya empuk, gurih dan rempahnya meresap banget. Aroma daun jeruknya tajam. Sementara kuah kentalnya juga gurih dan asamnya si belimbing sayur terasa. Untuk level satu, kekuatan pedasnya tipis-tipis saja. Cocok dipadu sama nasi hangat. Setiap porsinya ada tiga sampai empat potong ayam.
Garang asem iga di kedai ini juga punya jumlah potongan yang hampir sama. Citarasa bumbunya sama dengan garang asem ayam. Dagingnya juga empuk banget. Sekali tarik dari tulangnya langsung lepas. “Kami kukus hingga dua jam supaya empuk dan bumbu meresap,” jelas Susi. Garang asem ayam dan garang asem iga masing-masing harganya Rp 12.000 dan Rp 25.000.
Menu andalan lain yang wajib dicoba adalah trancam. Ini adalah sejenis urap khas Jawa Tengah, tapi memakai sayur mentah. Jadi citarasanya lebih segar dan renyah.
Sayuran dalam trancam ini antara lain kacang panjang, tauge, ketimun, kol, dan kemangi. Selain kemangi dan tauge, sayurannya diiris tipis. Semua diaduk dalam bumbu kelapa parut bercampur cabai, kencur, bawang putih, dan gula jawa. Rasanya pedas manis. Harganya Rp 3.000.
Menu sayuran lain adalah plecing jawa. Bedanya dengan plecing dari Lombok adalah dari warna dan citarasa. Sambal plecing Lombok berwarna merah dengan citarasa dominan pedas, sedang sambal plecing jawa berwarna kehitaman. Citarasannya lebih komplit. “Kalau plecing dari daerah lain bumbunya mungkin hanya tomat, cabai, dan terasi. Tapi kalau plecing jawa, ada asem jawanya, gula jawa, tentu juga ada cabainya,” jelas Susi. Harganya Rp 5.000.
Pasokan belimbing
Salah satu bahan baku garang asem adalah belimbing sayur. Sejatinya, tanaman belimbing sayur ini sangat mudah ditanam. Hanya, sering jadi tanaman yang diabaikan atau bahkan liar. Tak heran, Susi mengaku kesulitan mendapatkan pasokan belimbing sayur. “Di pasar belum tentu ada yang jual,” katanya.
Padahal dalam sehari, kedai ini membutuhkan 2 kg sampai 3 kg belimbing sayur. Karenanya, Susi mengaku kesulitan mendapat belimbing sayur. Menurut Susi, belimbing sayur ini tidak bisa distok. Sebab kalau layu citarasanya justru mengganggu. Susi membutuhkan belimbing sayur yang segar. “Saya malah mendapatkan pasokan dari Tangerang,” jelasnya.
Anda tertarik menjajal garang asem ala solo di Depok ini? Warung ini buka setiap hari, mulai jam 10.30 pagi sampai jam 10 malam.
Rumah makan ini juga sangat nyaman. Ruangannya terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama di lantai bawah ada area tanpa AC dengan kapasitas sekitar 30 orang. Di lantai yang sama ada area dengan AC berkapasitas 30 orang juga, termasuk area lesehan.
“Selain menu yang ada di resto kami juga menyediakan menu kafé seperti roti panggang dan sejenisnya. Jadi kami bisa memfasilitasi banyak menu di sini,” jelas Susi. u
Resep mertua jadi andalan
Ketika awal mendirikan rumah makan dengan menu utama garam asem, Susi Andreawati mengaku ragu. Perempuan yang bermukim di Depok dan mendirikan rumah makan dekat rumahnya ini, merasa warga seputar Depok tidak familiar dengan menu garang asem. Alhasil, terbayang sudah bagaimana sulitnya mempromosikan menu ini.
"Tapi tak ada salahnya dicoba, maka kami pakai pakai branding garang asem langsung, biar orang penasaran dulu. Kan nanti lama-lama akrab," ujar Susi.
Upaya yang dilakukan Susi cukup berhasil, buktinya kini, dalam sehari dia harus memasak 20 kg-25 kg beras dan sekitar 20 ekor ayam demi pembelinya. Belanjaannya akan bertambah ketika akhir pekan. "Saya tak menyangka responnya sebaik ini," kata Susi yang jadi pengembang usaha kuliner mertua ini.
Ya, garang asam ini merupakan menu andalan katering yang dimiliki mertuanya. " Mertua saya punya katering yang sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Tahun 2014, beliau memperkenalkan menu garang asem ini ke pelanggan," kenang Susi. Ternyata menu itu diminati dan menjadi menu yang paling banyak dipesan.
Karena itulah, keluarga Susi mencoba memperluas pasar menu ini, dengan membuka rumah makan dengan andalan garang asem.
Karena itu pula, nama rumah makannya menggunakan branding Garang Asem TW. TW merupakan singkatan nama katering sang mertua, kepanjangan dari Tunggal Warih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News