HOME

Bakal akuisisi Supreme, produsen sepatu Vans tawarkan US$ 2,1 miliar

Rabu, 11 November 2020 | 09:00 WIB   Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Bakal akuisisi Supreme, produsen sepatu Vans tawarkan US$ 2,1 miliar

KONTAN.CO.ID -  NEW YORK. VF Corp (VFC), yang merupakan produsen sepatu Vans, di awal pekan ini berniat untuk membeli perusahaan pakaian streetwear Supreme. Perusahaan tersebut akan menggelontorkan dana sebesar US$ 2,1 miliar. 

Aksi korporasi ini dilakukan untuk menambah kepopuleran Vans secara global. 

VFC, yang juga menaungi beberapa merek terkenal seperti The North Face dan Timberland bahkan mengatakan, bakal melakukan pembayaran tambahan hingga US$ 300 juta, untuk memuluskan aksi korporasinya. Berkat kabar itu, saham VFC, melonjak 13% menjadi US$ 78,94 pada perdagangan Senin (9/11) lalu. 

Baca Juga: Vans Official Store gandeng Simpsons luncurkan produk baru, ini jadwal dan harganya

Reuters merilis, Selasa (10/11), investor Supreme yakni Carlyle Group dan firma ekuitas swasta yang berbasis di New York Goode Partners telah bersedia untuk menjual saham mereka di Supreme, perusahaan yang didirikan James Jebbia pada tahun 1994. 

Perusahaan dikenal dengan logo kotak merah dengan tulisan "Supreme" dalam warna putih ini, telah mendapatkan tempat di kalangan penggemar fesyen streetwear atau biasa disebut hypebeast. Supreme pun selalu berhasil menjual habis produk keluarannya, bahkan dalam hitungan menit. 

Bahkan, peminat merek ini juga rela mengantri di 12 toko Supreme yang berada di seluruh dunia selama berjam-jam untuk mendapatkan produk barunya. Uniknya, Supreme memang selalu mengeluarkan produk secara terbatas dan hal ini membuat stoknya dalam jumlah terbatas. 

Di kalangan anak muda, kelangkaan itu memungkinkan pembeli untuk menjual Supreme dengan harga yang lebih tinggi bahkan jauh di atas merek streetwear lain seperti Vans dan Nike. 

"Model langka, terbaru dan pengaruh sosial kuat ini mendukung Supreme menghasilkan keuntungan terbaik di kelasnya," kata Chief Executive VF Corp Steve Rendle. 

VFC sendiri memperkirakan, pasar streetwear saat ini menjadi lebih luas dengan peluang global sekitar US$ 50 miliar dan Supreme bereda di pusat pasar ini. Pejabat VFC menambahkan, kesepakatannya dengan Supreme akan membantu perusahaan meningkatkan bisnis e-niaga, yang kini menjadi sasaran utama konsumen dan pembuat pakaian selama masa pandemi Covid-19. 

Supreme juga sudah berkolaborasi dengan banyak nama fesyen terkemuka, termasuk Louis Vuitton serta Nike, Levi dan Vans. Selain itu 60% dari pendapatannya diakui berasal dari bisnis online. 

Adapun, rencana akuisisi ini diharapkan akan selesai pada akhir tahun 2020. Aksi tersebut diperkirakan akan memberikan kontribusi setidaknya US$ 500 juta pendapatan dan laba per saham yang disesuaikan sebesar 20 sen pada tahun fiskal 2022. 

Baca Juga: Di marketplace sneakers ini, Nike Jordan paling laku, Adidas menguntit

Supreme tidak memberikan angka penjualan atau keuntungan Grup. Tetapi cabang Eropa yang berbasis di Inggris punya kewajiban untuk menerbitkan akun laporan tahunan dan berdasarkan data itu Supreme mencatat pertumbuhan yang cepat dan margin tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di industri. 

Pada akhir tahun hingga Januari 2019, bisnis Supreme di Eropa berhasil meraup laba US$ 130 juta meskipun hanya memiliki dua toko. Adapun margin keuntungan, sebelum biaya bunga sebesar 44%, angka itu dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri. Merek streetwear lain seperti Vans, Abercombie & Fitch atau merek mewah seperti Gucci bahkan tidak bisa memperoleh margin setinggi itu. 

Analis pun mulai bertanya-tanya mengenai rencana Supreme ke depan. Terutama soal harga premiumnya, lantaran produknya saat ini menjadi lebih banyak.

"Supreme adalah merek streetwear yang kuat. Meskipun merek tersebut telah membangun daya tariknya pada kelangkaan, kami yakin pasar akan bersemangat dengan profit margin dan pertumbuhan serta kontribusi terhadap VFC," kata analis Bernstein, Jaime Merriman. 

 

Selanjutnya: Prospek investasi sneakers di tengah pandemi corona (covid-19)

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Anna Suci Perwitasari
Terbaru