Tokoh

Hidup Keras Joao Angelo, Bertumbuh dari Kebun hingga Pimpin Agribisnis

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:17 WIB
Hidup Keras Joao Angelo, Bertumbuh dari Kebun hingga Pimpin Agribisnis

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota. Intip kisah hidup Joao Angelo, sosok yang mencintai tanah, membangun bisnis, dan berbagi keahliannya untuk memajukan pertanian Indonesia.

Reporter: Arif Ferdianto  | Editor: Noverius Laoli

Lahir dari keluarga birokrat dan pengusaha di Timor Leste, Joao Angelo De Sousa Mota tumbuh dalam kerasnya dinamika sosial-politik. Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini mewarisi darah Portugis, Angola, dan Timor. 

Ayahnya, seorang Wedana yang menentang ketidakadilan rezim Portugis, ditahan dan wafat di Angola pada 1976 tanpa pernah diadili. Sementara ibunya, seorang guru, mengakhiri karier sebagai Kepala Kantor Wilayah Depdikbud.

“Sejak usia lima tahun saya sudah akrab dengan pelarian, bom, dan serpihan granat di tubuh saya. Kami hidup dari kebun, buah tinggal petik,” kenangnya saat berbincang dengan KONTAN.

Baca Juga: Simpanan Nasabah Kaya di Perbankan Tumbuh Tipis hingga April 2025

Tahun 1989, Joao hijrah ke Jakarta melalui program beasiswa dan menempuh pendidikan SMA di Cijantung. Meski gagal dua kali masuk Akademi Militer, semangatnya tidak padam. 

Ia menyalurkan energi lewat pencak silat, bahkan pernah mewakili Cimahi di Pra-PON.

“Saya sempat berpikir silat adalah jalan hidup saya, sampai kalah terus dari juara SEA Games,” ujarnya sambil tertawa.

Joao kemudian melanjutkan studi hukum di Universitas Nasional (UNAS). Hobinya membaca membuatnya terbiasa menamatkan hingga 100 buku dalam setahun. 

Baca Juga: Aset Kantor Cabang Luar Negeri BNI Tumbuh 7% hingga Kuartal II-2025

Beasiswa membawanya ke luar negeri, mulai dari Selandia Baru, Amerika Serikat, hingga Meksiko. Di sanalah ia bersentuhan dengan realitas keras, tinggal bersama pengacara kartel narkoba yang nyaris menyeretnya jadi “guard.”

“Untung saya sadar, itu bukan jalan saya,” katanya.

Meniti Usaha Konstruksi dan Properti

Sekembalinya ke tanah air, Joao sempat mengajar bahasa Spanyol sebelum bekerja di kapal pesiar. Setelah kontrak berakhir, ia membangun bisnis konstruksi dan outsourcing yang berkembang pesat, memasok tenaga kerja ke berbagai BUMN serta menangani perawatan gedung.

“Kontrak Rp 1 miliar pertama saya terasa luar biasa,” ungkapnya.

Setelah itu, ia merambah properti kecil-kecilan seperti kos-kosan dan cluster rumah. Namun, 72 pintu kos yang ia kelola justru membuatnya jenuh. 

“Lebih melelahkan daripada mengurus anak. Saya pilih jual, lalu re-invest,” ujarnya.

Baca Juga: Pendapatan Premi MSIG Life Tumbuh 29% hingga Mei 2025

Meski mapan di dunia konstruksi, Joao tak pernah meninggalkan kecintaannya pada kebun. Baginya, bertani adalah jati diri. Di NTT, ia mengelola 200 hektare lahan: 150 hektare tanaman keras, sisanya padi dan hortikultura.

“Hidup saya dibentuk dari kebun. Dari kecil, saya mengerti bagaimana tanam dan panen,” jelasnya.

Ia pun mendirikan pelatihan pertanian swadaya di lahannya, melatih ribuan petani dan siswa SMK untuk bertani secara alami dan mandiri. Dedikasi itu membawanya ditunjuk Presiden sebagai Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, perusahaan agribisnis pelat merah.

Di sana, ia menggagas model plasma farming di lahan eks-TNI Baturaja, Sumatera Selatan. 

“Petani tak boleh jadi objek. Mereka harus jadi produsen. Kalau kita dampingi penuh, mereka bisa hidup layak. Gaji Rp 4,5 juta per bulan bukan mimpi,” tegasnya.

Hasilnya nyata. Produktivitas padi, jagung, hingga hortikultura meningkat drastis. “Agrinas ini bisa jadi saingan Pertamina. Kita menambang emas di atas tanah, bukan di bawahnya,” tambahnya.

Baca Juga: Kata Bos Danantara soal Mundurnya Dirut Agrinas Pangan Joao Mota

Namun, kepemimpinannya hanya bertahan empat bulan. Ia memilih mundur demi memperluas kiprah sosial lewat PT Timor Farm Nusantara yang ia pimpin sejak 2020, bergerak di bidang pertanian dan peternakan di NTT.

“Cita-cita saya sederhana: hidup bermanfaat, melayani. Dari tanah saya tumbuh, ke tanah saya kembali untuk menyuburkannya,” pungkasnya.

Hidup Sederhana, Nilai yang Membumi

Di tengah kesibukan mengelola Timor Farm Nusantara, Joao tetap hidup sederhana. Hobi dan pekerjaannya tak terpisahkan: konstruksi dan pertanian. Ia lebih senang mengurus kebun ketimbang terjebak macet di kota.

“Hobi saya enggak ada lain daripada konstruksi dan pertanian,” ujarnya.

Ayah dua putri ini mengakui tantangan terbesar adalah waktu bersama keluarga. Putri-putrinya kini menempuh pendidikan jauh, di Malang dan Jepang. Meski begitu, ia bangga melihat mereka tumbuh mandiri.

Baca Juga: Ini Alasan Dibalik Mundurnya Dirut Agrinas Joao Mota

Soal panutan, jawabannya sederhana: bukan manusia, melainkan Tuhan. “Panutan kita yang paling sejati adalah Tuhan,” tegasnya.

Bagi Joao, kesuksesan sejati bukan sekadar jabatan, melainkan ketenangan batin dan nilai hidup sederhana. Ia menemukan kebahagiaan dalam mencintai pekerjaannya dan memegang teguh keyakinan. 

Selanjutnya: Pengusaha Ritel Waspadai Dampak Demo: Pemerintah Harus Serius Menanggapi

Menarik Dibaca: QRIS Livin by Mandiri Dapat Digunakan di Jepang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Terbaru