HOME

Ketika layang-layang Sang Brahma kembali ke alam bebas

Minggu, 25 Agustus 2019 | 09:56 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Ketika layang-layang Sang Brahma kembali ke alam bebas

ILUSTRASI. Burung Elang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lima tahun. Ya, lima tahun. Waktu yang Bagus butuhkan untuk bisa kembali ke alam bebas.

Selama itu, Bagus "menetap" di Pulau Kotok. Di pulau yang masuk gugusan Kepulauan Seribu ini, Bagus "tinggal" bersama 29 burung elang bondol berjulukan berjulukan layang-layang sang Brahma. 

Betul, Bagus bukan nama orang tapi elang bondol betina. Hari itu, Ahad (18/8), ia dilepasliarkan bersama Bagas.

Bagus menjalani program sanctuary alias suaka di JAAN Raptor Sanctuary sejak 2015. JAAN singkatan dari Jakarta Animal Aid Network.

Sebelum masuk program suaka, Bagus ditemukan dalam kondisi tidak sehat. Kulit kakinya terkena bubble foot atau pembengkakan kaki. Kemampuan terbangnya pun menurun. 

Ditemukan di Jawa Tengah, Bagus kemudian dibawa ke Pulau Kotok untuk mendapatkan perawatan kesehatan dan rehabilitasi. Setelah dinilai sehat dan mampu bertahan hidup, Bagus dilepasliarkan bersama Bagas, elang bondol jantan. 

JAAN Raptor Sanctuary yang ada di Pulau Kotok merupakan satu-satunya tempat konservasi elang bondol dan elang laut di Indonesia. Melihat populasinya di ambang kepunahan, JAAN melakukan konservasi elang bondol sejak 2005. 

"Tiap tahun populasi elang bondol menurun karena banyak yang mengeksploitasi elang, karena elang memiliki kepintaran yang tinggi dan mudah dilatih," kata Benvika, Ketua JAAN, pekan lalu. 

Baca Juga: Melihat perjalanan suaka si maskot Jakarta di Pulau Kotok  

Program suaka JAAN merawat dan merahabilitasi elang bondol dengan kondisi fisik beragam. Di Pulau Kotok terdapat kandang raksasa bertuliskan Sanctuary. 

Kandang ini berisi beberapa elang bondol bernama Latin Haliastur Indus yang cacat. Alhasil, maskot Provinsi DKI Jakarta ini tidak bisa dilepasliarkan lagi.

Menurut Benvika, di dalam kandang tersebut, elang bondol mengalami patah sayap sehingga tidak bisa terbang, atau matanya luka karena terkena jaring penangkap burung. 

“Elang ini sitaan dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang melalukan operasi di beberapa daerah. Mereka dipelihara manusia di dalam sangkar yang sempit, sehingga berisiko sayap patah. Bahkan, dengan menjadi binatang peliharaan, membuat elang bondol kehilangan nalurinya menangkap ikan hidup,” jelas Benvika.

Editor: S.S. Kurniawan


Terbaru