KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keinginan menurunkan berat badan dengan cepat kerap membuat produk pelangsing yang menawarkan hasil instan terlihat menggiurkan. Produk semacam ini juga semakin mudah ditemukan melalui penjualan daring dan promosi di media sosial.
Namun, dokter mengingatkan bahwa penanganan obesitas membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Diet ekstrem maupun penggunaan obat pelangsing yang belum jelas keamanan dan izin edarnya justru dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.
Hal tersebut dibahas dalam Health Corner bertema “Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal”, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga: Fantasy Premier League 2026-2027 Segera Bergulir: Cek Tips untuk Pemula
Diet ekstrem bukan solusi
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, dr Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc, Sp.GK, mengatakan, salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan dalam upaya menurunkan berat badan adalah memangkas asupan makanan secara ekstrem.
Pola tersebut antara lain hanya makan satu kali sehari atau menghilangkan kelompok makanan tertentu, seperti karbohidrat.
“Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu,” ujar Prinindita dalam keterangannya.
Menurutnya, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi dengan baik.
Karbohidrat diperlukan sebagai salah satu sumber energi, sedangkan protein berperan sebagai zat pembangun. Selain itu, tubuh juga tetap membutuhkan lemak, serat, vitamin, dan mineral.
Karena kebutuhan setiap orang berbeda, pola makan dalam program penurunan berat badan juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.
“Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalize diet untuk setiap masing-masing individu,” jelasnya.
Baca Juga: Intip Kode Redeem Seven Knights Re:Birth Agustus 2026, Ada Potensi Hadiah Berlimpah
Obesitas bukan sekadar kurang disiplin
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr Riyanny Meisha Tarliman mengatakan anggapan bahwa obesitas semata-mata disebabkan kurangnya disiplin juga perlu diluruskan.
Menurutnya, obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi berbagai faktor kompleks, mulai dari faktor biologis dan genetik hingga lingkungan.
“Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dll., dan seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter,” kata Riyanny.
Ia mengatakan masyarakat perlu mendapatkan informasi yang tepat mengenai obesitas agar penanganannya tidak hanya berfokus pada penurunan angka di timbangan.
Dalam hal ini, Novo Nordisk menyediakan platform NovoCare.id untuk memberikan akses terhadap informasi berbasis sains mengenai obesitas sekaligus membantu masyarakat terhubung dengan dokter.
Baca Juga: Gangstar Mirage City Tersedia di Android dan iOS: Hadirkan Latar Kota Futuristik
Sementara itu, Prinindita menjelaskan obesitas berkaitan dengan kelebihan lemak dalam tubuh dan dapat berkembang secara perlahan.
Penyebabnya pun beragam, termasuk gaya hidup, penggunaan obat tertentu, serta gangguan hormonal seperti hipotiroid dan sindrom Cushing.
Karena itu, penanganan obesitas perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat berat badan, tetapi juga perlu mempertimbangkan komposisi tubuh dan kemungkinan adanya penyakit penyerta.
Penanganan obesitas tidak hanya dengan obat
Riyanny menjelaskan, penanganan obesitas memiliki sejumlah pilar, salah satunya perubahan gaya hidup.
Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan terapi farmakologi maupun tindakan operasi bariatrik.
Baca Juga: Barcelona Pulangkan Joao Cancelo, Dikontrak hingga 2029
Pemilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Dokter perlu mempertimbangkan komposisi tubuh serta penyakit penyerta, seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular.
“Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai,” jelas Riyanny.
Jika upaya menurunkan berat badan secara mandiri telah dilakukan tetapi tidak memberikan hasil, konsultasi dengan dokter dapat menjadi langkah berikutnya.
Evaluasi diperlukan untuk mengetahui faktor yang mungkin belum tertangani sekaligus menentukan terapi yang sesuai.