Jangan asal konsumsi obat pelangsing
Keinginan mendapatkan hasil cepat juga membuat sebagian masyarakat memilih produk penurun berat badan yang ditawarkan secara online.
Padahal, tidak semua produk yang beredar telah memenuhi persyaratan keamanan dan memiliki izin edar.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof Dr dr Taruna Ikrar, M.Biomed mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap promosi produk kesehatan, termasuk yang dilakukan influencer di media sosial.
Baca Juga: Cek Kode Redeem Untitled Boxing Game per 20 Agustus 2026: Ada Lucky Spins Gratis
Menurut Taruna, promosi produk kesehatan di media sosial terkadang disertai klaim berlebihan atau overclaim. Karena itu, ulasan atau rekomendasi dari influencer tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam memilih obat penurun berat badan.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan obat penurun berat badan dilakukan sesuai ketentuan. Jika suatu obat membutuhkan resep, penggunaannya harus melalui konsultasi dengan dokter.
Prinindita menambahkan, masih terdapat obat yang telah ditarik dari peredaran sejak 2010 tetapi menurutnya masih ditemukan di masyarakat.
Penggunaan obat yang telah ditarik dari peredaran tentu memiliki risiko karena produk tersebut sudah tidak diperbolehkan beredar.
Cek KLIK sebelum membeli
Untuk menghindari produk ilegal atau bermasalah, Taruna mengingatkan masyarakat menerapkan Cek KLIK sebelum membeli obat maupun produk kesehatan.
Cek KLIK mencakup Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
Masyarakat perlu memastikan kemasan produk dalam kondisi baik. Selanjutnya, periksa label dan informasi mengenai indikasi atau peruntukan produk.
Baca Juga: Inter Milan Jadi Favorit Pertahankan Scudetto, Persaingan Serie A Makin Terbuka
Konsumen juga perlu memastikan produk memiliki izin edar serta belum melewati tanggal kedaluwarsa.
“Pastikan kata BPOM yang kedua tentu. Apa kata BPOM? Pastikan cek klik, kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa,” ujar Taruna.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap barcode yang tercantum pada kemasan. Jika setelah dipindai justru mengarah ke laman yang tidak berkaitan dengan BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan.
Jangan mengejar hasil instan
Riyanny menekankan bahwa penanganan obesitas membutuhkan waktu karena obesitas merupakan penyakit kronis.
“Namanya kronis tidak dari kemarin tiba-tiba hari ini saya obes, maka penyelesaiannya juga tidak kemudian hari ini besok saya selesai. Pengelolaan obesitas harus berbasis sains, melibatkan tenaga kesehatan, dan mempertimbangkan dampak dan manfaat jangka panjang (long-term health),” tuturnya.
Perubahan gaya hidup juga perlu dilakukan secara bertahap agar dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.
Misalnya, pada orang yang sudah mengalami gangguan lutut, jenis olahraga perlu disesuaikan agar aktivitas fisik tetap dapat dilakukan tanpa memperburuk kondisi tersebut.
Prinindita menambahkan, konsistensi menjadi salah satu faktor penting dalam menjalani terapi obesitas. Tujuannya bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi juga mempertahankan hasil tersebut dan mencegah berat badan kembali meningkat.
“Memang diperlukan konsisten yang pertama itu sangat penting sekali, istikomah, dan juga komitmen,” pungkas Prinindita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News