HOME

Nike Vaporfly sukses bujuk jutaan pelari amatir, ini kisah kontroversinya

Jumat, 24 Januari 2020 | 16:56 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Nike Vaporfly sukses bujuk jutaan pelari amatir, ini kisah kontroversinya

ILUSTRASI. Sejumlah atlet mengenakan sepatu Nike Vaporfly selama Dubai Marathon di Dubai, Uni Emirat Arab (24/1/2020).


KONTAN.CO.ID - Holly Grundon, pelari amatir Inggris, sangat senang bisa memecahkan rekor kecepatan pribadi yang telah lama dia pegang. Perempuan 36 tahun ini bisa melahap half marathon alias 21,1 km dalam waktu kurang dari 1 jam 30 menit.

Tapi, raihan tersebut tak lepas dari keputusan Grundon beralih ke sepatu Nike Vaporfly. Catatan waktu pribadi terbaiknya (PB) itu membuat dia bertanya-tanya, apakah dia menipu diri sendiri, atau mengotori olahraga yang selalu ia cintai karena kemurniannya.

"Ketika Anda berlari, Anda hanya ingin berlari untuk diri sendiri," kata Grundon kepada Reuters. "Hanya kamu yang melawan jalan dan waktu yang ada dalam pikiranmu untuk dikalahkan," ujar dia yang juga menekuni trialton ini.

Baca Juga: Sambut Imlek, Nike rilis Air Max 1 Premium

"Jadi, berinvestasi dalam sepasang sepatu yang dimaksudkan untuk membuatmu lebih cepat berlari secara otomatis, ya, ada pertimbangan etis, dan apakah itu bisa dikatakan curang, ya, saya rasa," ucap Grundon.

Grundon mengungkapkan, bertahun-tahun dia berusaja mengejar waktu half marathon dengan target 1 jam 30 menit, tapi tidak pernah berhasil. Hanya, "Beringsut lebih dekat dan lebih dekat ke waktu itu," ungkapnya.

Saat mengikuti acara lari half marathon di Madrid, Spanyol, Grundon pun memutuskan membeli Nike Vaporfly, setelah melihat pelari lainnya memakainya dan membaca ulasan tentang sepatu itu.

Baca Juga: Nike depak New Balance jadi aparel resmi Liverpool FC

"Saya merasa sangat aneh saat memakainya, tetapi begitu berlari dan berlari, saya benar-benar merasa cepat," kata Grundon. "Saya berhasil mencapai target saya, bahkan di bawah waktu yang saya inginkan".

"Tetapi setelah acara lari, itu (Vaporfly) membuat saya bertanya-tanya, apakah saya harus memakainya. Karena saya pikir, saya mungkin bisa mengalahkan target saya hanya dengan sepatu yanng biasa saya pakai," ujar dia.

Studi ilmiah serta bukti anekdotal menunjukkan, sepatu lari Nike Vaporfly yang dilengkapi dengan sol busa super-kenyal yang membungkus pelat serat karbon, bisa meningkatkan efisiensi berlari antara 4% hingga 6%.

Baca Juga: Preview deretan sneakers Air Jordan yang diprediksi cuan tahun 2020

Fakta tersebut sukses membujuk jutaan pelari amatir termasuk Grundon untuk menyingkirkan sepatu favorit lama mereka dan mencoba Nike Vaporfly.

Sepatu itu juga menimbulkan pertanyaan di World Athletics, badan olahraga lari dunia, yang tampaknya akan meninjau peraturannya untuk lomba tingkat elit mengingat kemajuan teknologi, sambil memungkinkan pelari rekreasi memakai apa yang mereka inginkan.

Melansir Reuters, Chief Financial Officer (CFO) Nike Andrew Campion mengatakan kepada analis pada Desember 2019, pangsa pasar perusahaannya mencapai rekor tertinggi pada kuartal kedua tahun lalu, berkat kesuksesan model VaporFly.

Baca Juga: Sneakers Nike Kaepernick ludes terjual dalam hitungan jam, ini ceritanya

Dan, sambil bercanda Campion bilang, "Waktu yang saya perlukan untuk berjalan melintasi kampus Nike di sini, di kantor pusat, telah berkurang setidaknya 4%. Jadi saya merasa senang tentang hal itu".

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: S.S. Kurniawan
Tag


Terbaru