Di Indonesia, preferensi penumpang memperlihatkan pertimbangan yang beragam. Survei Jakpat terhadap 338 pengguna penerbangan domestik pada periode mudik Lebaran 2026 menemukan bahwa 84% responden mempertimbangkan keselamatan dalam memilih maskapai, disusul ketepatan waktu (82%) dan keterjangkauan harga (80%). Sementara itu, fleksibilitas jadwal (74%) dan kemudahan membawa bagasi (73%) juga menjadi pertimbangan penting.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen Indonesia tidak semata mencari tiket paling ekonomis, tetapi juga mempertimbangkan kualitas layanan dan manfaat yang relevan dengan kebutuhan perjalanan. Kendati survei terbatas pada periode mudik, hasilnya memberikan perspektif mengenai peluang pengembangan produk penerbangan yang semakin berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
Praktik pengemasan layanan dalam berbagai pilihan juga mulai dikenal di pasar Indonesia. AirAsia, misalnya, menawarkan paket Value Pack dan Premium Flex dengan kombinasi manfaat seperti bagasi, pemilihan kursi, makanan, dan fleksibilitas perjalanan. Sementara itu, penerapan branded fares pada maskapai layanan penuh tentunya perlu memperlihatkan peluang diferensiasi produk tanpa harus meninggalkan standar layanan inti yang menjadi identitas maskapai.
Dari perspektif industri nasional, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) turut menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan bisnis maskapai dan peningkatan kualitas pelayanan di tengah tantangan biaya operasional. Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, dalam Rapat Umum Anggota INACA menekankan perlunya kebijakan yang responsif untuk menjaga industri penerbangan tetap sehat dan berkembang, sekaligus meningkatkan pelayanan kepada konsumen.
Baca Juga: Hyundai E&C Tersingkir dari Piala KOVO, Megawati Catat Akurasi Serangan 56,25%
INACA juga menegaskan pentingnya penyelarasan ketentuan pelayanan dengan implikasi biaya, guna menjaga keseimbangan antara kepentingan penumpang dan penyedia jasa penerbangan.
Perspektif tersebut memperlihatkan tantangan industri penerbangan nasional dalam menjaga keterjangkauan harga, kualitas pelayanan, dan keberlanjutan bisnis secara bersamaan. Dalam konteks ini, pengembangan pilihan tarif berbasis kebutuhan pelanggan dapat menjadi salah satu pendekatan komersial yang relevan untuk dikembangkan.
Namun, transparansi tetap menjadi faktor penting. Studi McKinsey terhadap 7.000 wisatawan global yang diterbitkan pada Mei 2025 menemukan bahwa 36% responden mengeluhkan biaya tersembunyi atau kurangnya transparansi harga ketika memesan penerbangan. Karena itu, diferensiasi tarif perlu disertai kejelasan manfaat, batasan layanan, serta total biaya yang harus dibayarkan pelanggan.
Pada akhirnya, evolusi produk penerbangan bukan sekadar memisahkan fasilitas menjadi layanan berbayar, tetapi memberikan kebebasan kepada pelanggan untuk memilih kombinasi harga, kenyamanan, dan fleksibilitas yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Sebab, nilai sebuah perjalanan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak fasilitas yang diperoleh, melainkan seberapa berarti manfaat tersebut bagi setiap penumpang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News