Sport

PSG Juara Liga Champions Dua Musim Beruntun, Luis Enrique Dipuji Ubah Mentalitas Tim

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:24 WIB
PSG Juara Liga Champions Dua Musim Beruntun, Luis Enrique Dipuji Ubah Mentalitas Tim

ILUSTRASI. PSG juara Liga Champions 2x berturut-turut! Luis Enrique sukses tanamkan budaya kolektif. (Dok./PSG)

Sumber: Reuters  | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesuksesan Paris Saint-Germain (PSG) meraih gelar Liga Champions dua musim berturut-turut tidak hanya dibangun oleh kualitas pemain, kedalaman skuad, atau kecanggihan taktik semata. Di balik dominasi klub asal Prancis tersebut, terdapat perubahan budaya dan mentalitas yang ditanamkan pelatih Luis Enrique sejak kedatangannya pada 2023.

Saat tiba di Paris, Luis Enrique tidak menjanjikan kejayaan instan atau sepak bola yang hanya mengandalkan bintang besar. Pelatih asal Spanyol itu justru mengusung perubahan budaya tim dengan menempatkan kepentingan kolektif di atas status individu. Ia menginginkan seluruh pemain, termasuk para bintang, mau bertahan, menekan lawan, dan berjuang bersama demi tim.

Dua trofi Liga Champions kemudian menjadi bukti keberhasilan pendekatan tersebut. Para pemain PSG kini lebih sering menggambarkan Luis Enrique bukan sekadar pelatih, melainkan arsitek sekaligus pemimpin yang membangun identitas baru klub.

Bek PSG Achraf Hakimi mengakui bahwa keberhasilan mempertahankan gelar Liga Champions merupakan pencapaian yang luar biasa setelah PSG mengalahkan Arsenal melalui adu penalti 4-3 pada final yang berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu.

Baca Juga: Arsenal Andalkan Pertahanan Kokoh Hadapi PSG di Final Liga Champions

"Tidak mudah untuk meraih gelar Liga Champions dua kali berturut-turut, tetapi kami berhasil melakukannya," kata Hakimi.

"Pelatih adalah suara utama di klub ini. Kami mengikuti arahannya dan mempercayainya. Sejak hari pertama, dia mengatakan bahwa tim lebih penting daripada pemain. Kami tidak hanya membangun sebuah tim, tetapi juga sebuah keluarga," lanjutnya.

Mengubah PSG Menjadi Tim yang Solid

Filosofi tersebut menjadi fondasi era baru PSG. Selama bertahun-tahun, klub ini dikenal gemar mengumpulkan pemain bintang, tetapi kerap gagal memenuhi ekspektasi di Liga Champions. Banyak kegagalan mereka di kompetisi Eropa dikaitkan dengan rapuhnya mental tim saat menghadapi tekanan.

Luis Enrique memilih pendekatan berbeda. Ia membangun tim yang mengandalkan intensitas permainan, daya juang, dan kepercayaan penuh terhadap sistem kolektif. PSG tetap atraktif dalam menyerang, tetapi kini struktur permainan dan komitmen seluruh pemain menjadi prioritas utama.

Meski banyak pihak mulai menempatkannya di jajaran pelatih legendaris sepak bola dunia, Luis Enrique menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu memikirkan warisan atau pengakuan pribadi.

"Legenda? Saya tidak tertarik dengan hal itu," ujar Luis Enrique.

Namun demikian, para pemain PSG semakin melihatnya sebagai sosok sentral di balik dominasi klub yang berpotensi berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.

Luis Enrique Jaga Kekompakan di Tengah Musim yang Berat

Gelandang Portugal Vitinha mengungkapkan bahwa PSG harus menjalani musim yang sangat melelahkan. Cedera pemain, kelelahan fisik, serta padatnya jadwal pertandingan menjadi tantangan besar setelah masa persiapan yang relatif singkat.

Baca Juga: Mikel Arteta Bidik Gelar Liga Champions untuk Sempurnakan Kebangkitan Arsenal

"Ada banyak pasang surut sepanjang musim ini. Kami tahu sejak awal musim, dengan waktu istirahat dan persiapan yang minim, akan ada masalah fisik dan cedera. Namun kami sudah siap menghadapinya," kata Vitinha.

Ia juga memuji staf pelatih PSG yang dinilai berhasil mengelola skuad dengan sangat baik. Musim ini dimulai tidak lama setelah PSG kalah dari Chelsea pada final Piala Dunia Antarklub, sehingga waktu pemulihan pemain menjadi sangat terbatas.

"Kami memainkan beberapa pertandingan tanpa pemain-pemain kunci, tetapi kami tetap mampu berkembang dan meraih kemenangan. Apa yang dilakukan tim ini, termasuk para pemain yang mendapatkan menit bermain lebih sedikit, sangat layak mendapatkan apresiasi," tambahnya.

Warren Zaire-Emery Dapat Pujian Khusus

Salah satu ciri khas kepemimpinan Luis Enrique adalah kesediaannya memberikan kepercayaan kepada seluruh anggota skuad tanpa memandang reputasi.

Usai final, ia secara khusus memberikan pujian kepada gelandang muda Warren Zaire-Emery. Meski hanya tampil pada babak tambahan waktu, pemain berusia 20 tahun itu dinilai menunjukkan kualitas luar biasa sepanjang musim, termasuk saat mengisi berbagai posisi untuk menutupi absennya pemain lain akibat cedera.

"Kami sebagai pelatih mungkin kurang adil kepada Warren. Dia pantas bermain di final. Namun dalam menit bermain yang dia dapatkan, dia menunjukkan bahwa dirinya adalah pemain yang istimewa," ujar Luis Enrique.

Baca Juga: Pep Guardiola: Penggantinya di Manchester City Tak Bisa Sekadar “Copy-Paste”

Kepercayaan terhadap kekuatan kolektif tersebut juga membantu PSG melewati berbagai fase transisi yang sebelumnya berpotensi mengguncang stabilitas klub. Kepergian sejumlah penyerang bintang dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi dianggap sebagai ancaman besar bagi masa depan tim.

PSG Bidik Gelar Liga Champions Ketiga

Luis Enrique menegaskan bahwa PSG telah memiliki arah yang jelas dalam membangun masa depan klub, termasuk dalam urusan transfer pemain.

"Kami tahu jalan yang ingin kami tempuh. Kami bekerja untuk masa depan, tetapi kami tidak terburu-buru," kata Luis Enrique.

Optimisme serupa juga disampaikan kapten tim Marquinhos. Menurutnya, Luis Enrique akan terus mendorong PSG untuk mengejar gelar Liga Champions berikutnya.

"Kami memiliki pelatih yang akan mendorong kami untuk meraih gelar Liga Champions ketiga," ujar Marquinhos.

Sementara itu, Vitinha secara bercanda menyebut Luis Enrique sebagai sosok yang bertanggung jawab atas ambisi tanpa henti para pemain PSG untuk terus mengoleksi trofi.

"Keinginan untuk terus menang dan tidak pernah berhenti, Luis Enrique adalah penyebabnya," kata Vitinha sambil tersenyum.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Terbaru