HOME

Malang melintang kuliner warisan di Kota Malang

Jumat, 11 Oktober 2019 | 13:43 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, Dityasa H Forddanta, Jane Aprilyani
Malang melintang kuliner warisan di Kota Malang

ILUSTRASI. Suasana di warung Pecel kawi kota Malang Jawa Timur./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/17/09/2019.

Puthu Lanang

Rasa Manis Kue Legendaris

Dua spanduk besar yang eye catching langsung menyambut saat pengunjung menjejakkan kaki di kedai Puthu Lanang yang berlokasi di Klojen, Malang. Salah satu tulisan spanduk sangat menarik perhatian Tim Jelajah Ekonomi Pariwisata Kontan. Tulisannya berbunyi seperti ini: “Kuliner Tertua di Malang Sejak 1935”.
Saat membaca spanduk itu, decak kagum langsung keluar dari mulut kami. Sudah dipastikan, ada sesuatu yang istimewa dengan kue putu lanang yang hanya dijajakan pada malam hari ini. Apalagi, antrian pembeli sudah panjang saat kami datang pukul 19.15 WIB. “Ngobrolnya nanti ya,” sapa Siswoyo, pemilik Puthu Lanang saat melihat kedatangan Kontan.
Antrian pembeli mulai terlihat berkurang saat pukul 21.00 WIB. Saat itulah, Siswoyo bisa bercerita soal kedai kulinernya yang legendaris. Dirunut dari asalnya, ternyata pada saat awal berdiri pada tahun 1935, jajanan ini bernama kue Phutu Celaket. Alasannya karena camilan ini dijual di Jalan Celaket.
“Tetapi seiring bergulirnya waktu, kue ini berubah nama jadi Puthu Lanang. Selain tempat jualannya juga pindah, tujuan lainnya agar tidak ditiru orang lain,” katanya.
Siswoyo menjajakan cemilan ini di dalam sebuah gang yang hanya muat satu mobil. Mayoritas pembeli tidak makan di tempat alias dibawa pulang. Sebab, lokasinya memang tidak memungkinkan. Kendati demikian, kuliner malam ini punya rasa yang jempolan. Kue putu yang langsung dimasak di tempat tersebut memiliki rasa yang lezat dan sangat pulen.
Jika dilihat sepintas, tampilan kue putu yang dijajakan Siswoyo hampir sama dengan kue putu pada umumnya. Namun, parutan kelapa yang menghiasi kue putu tak berbau dan bersih. Gula merahnya pun kental juga legit. Pokoknya maknyus.
Siswoyo, yang merupakan generasi kedua usaha ini menjabarkan, bahan-bahan untuk membuat kue putu sangat alami, mulai dari kelapa, gula merah dan santan semua dibeli di pasar tradisional. “Semua bahan berkualitas nomor satu. Jadi tidak akan bau ataupun hambar. Makanya saya berani jual, meski keuntungan kecil, tapi puas melihat produknya habis,” tandasnya.
Tak hanya kue putu, Siswoyo juga menyajikan menu cemilan tradisional lain. Seperti cenil, klepon, dan lupis.
Usut punya usut, dalam kurun waktu beberapa jam saja, Siswoyo bisa menjual 600 sampai 700 porsi kue. Itu belum termasuk pesanan di rumah, loh. “Totalnya bisa mencapai 3.000 sampai 4.000 porsi,” katanya.
Satu porsi kue putu lanang berisi 9 buah. Harganya Rp 10.000 saja. Ini juga berlaku untuk pembelian klepon, cenil atau lupis.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie


Terbaru