Piala Dunia 2026: Inggris Kuat di Atas Kertas, Rapuh di Lapangan?

Selasa, 02 Juni 2026 | 23:50 WIB
Piala Dunia 2026: Inggris Kuat di Atas Kertas, Rapuh di Lapangan?

ILUSTRASI. Striker timnas Inggris dan Bayern Munchen, Harry Kane (Dok./FC Bayern Munich)

Sumber: Reuters  | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Timnas Inggris kembali memasuki Piala Dunia dengan kombinasi harapan besar dan keraguan yang sudah lama melekat.

Meski diperkuat banyak pemain bintang dan kini ditangani pelatih berpengalaman asal Jerman, Thomas Tuchel, prospek The Three Lions masih dinilai sangat bergantung pada performa sang kapten Harry Kane.

Baca Juga: Erling Haaland Siap Pikul Harapan Norwegia Akhiri Penantian 28 Tahun di Piala Dunia

Melansir Reuters Selasa (2/6/2026), Kane yang kini berusia 32 tahun tetap menjadi sosok sentral dalam permainan Inggris. Rekor gol dan kontribusinya untuk klub maupun tim nasional tidak diragukan lagi.

Namun, sejumlah turnamen besar sebelumnya menunjukkan bahwa ketergantungan Inggris terhadap penyerang Bayern Munich tersebut dapat menjadi titik lemah.

Saat Kane tampil tajam, lini serang Inggris memiliki arah permainan yang jelas, kehadiran di kotak penalti, serta pemain yang bisa menjadi poros serangan.

Namun ketika performanya menurun atau kesulitan menemukan ritme permainan, efektivitas serangan Inggris ikut merosot.

Pilihan penyerang lain yang dimiliki Inggris dinilai belum mampu memberikan dampak sebesar Kane.

Kondisi ini membuat Tuchel menghadapi tantangan untuk menjaga kebugaran dan performa sang kapten tanpa mengorbankan identitas permainan tim.

Jika Kane kembali mengalami periode kurang produktif seperti yang sempat terjadi di beberapa turnamen internasional sebelumnya, Inggris berisiko kehilangan ketajaman pada momen-momen krusial.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Bidik Piala Dunia Keenam, Masih Kejar Mimpi yang Belum Tuntas

Tuchel Masih Mencari Formasi Ideal

Ketidakpastian tidak hanya terjadi di lini depan. Hingga menjelang Piala Dunia 2026, Inggris masih terlihat mencari bentuk permainan terbaiknya.

Sejak mengambil alih kursi pelatih pada Januari 2025, Tuchel telah memanggil total 51 pemain berbeda ke dalam skuad Inggris.

Alih-alih mempertahankan susunan pemain yang tetap, mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munich itu terus melakukan rotasi dan belum menemukan komposisi utama yang benar-benar mapan.

Situasi tersebut terlihat jelas pada peran Jude Bellingham. Gelandang muda andalan Inggris itu masih belum memiliki posisi yang benar-benar pasti dalam skema Tuchel.

Bellingham bisa dimainkan sebagai gelandang bertahan, gelandang serang nomor 10, maupun peran yang lebih bebas di lini tengah.

Fleksibilitas tersebut menjadi kelebihan, namun sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan tim.

Fakta bahwa posisi terbaik pemain Real Madrid tersebut masih menjadi perdebatan menunjukkan bahwa Inggris masih mencari identitas permainan yang jelas.

Baca Juga: Argentina Bidik Gelar Piala Dunia Beruntun, Messi Berpeluang Ukir Sejarah Terakhir

Tetap Memiliki Potensi Besar

Meski demikian, Inggris tetap memiliki modal besar untuk bersaing di Piala Dunia.

Selain Kane, skuad Tuchel diperkuat oleh Bellingham dan Bukayo Saka yang telah kembali ke performa terbaik setelah pulih dari cedera Achilles yang membuatnya absen lebih dari sebulan.

Saka menawarkan kreativitas dan kecepatan dari sisi lapangan, sementara Bellingham memberikan keseimbangan antara kontrol permainan dan agresivitas menyerang. Di lini tengah, kombinasi tersebut dapat menjadi fondasi kuat bagi Inggris.

Namun tantangan terbesar Inggris tetap sama seperti pada turnamen-turnamen sebelumnya, yakni menjaga konsistensi performa.

Tim ini kerap tampil meyakinkan dalam satu pertandingan, tetapi kemudian kehilangan ritme dan terlihat biasa-biasa saja pada laga berikutnya.

Baca Juga: Penjelasan Knights of God di Anime One PIece dan Kemunculannya di Elbaph

Piala Dunia 2026 bisa kembali menjadi turnamen di mana kekuatan terbaik Inggris baru benar-benar terlihat saat menghadapi tekanan di fase gugur.

Apakah hal tersebut akan menjadi kekuatan atau justru menjadi kelemahan yang berakibat fatal, akan sangat menentukan perjalanan mereka.

Inggris tergabung di Grup L dan akan memulai laga mereka menghadapi Kroasia pada 17 Juni.

Setelah itu, mereka dijadwalkan menghadapi Ghana dan Panama dalam upaya mengamankan tiket ke babak berikutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag
Terbaru