kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Taman Nasional BTS, berkembang tanpa mengesampingkan warga lokal


Kamis, 10 Oktober 2019 / 12:22 WIB

Taman Nasional BTS, berkembang tanpa mengesampingkan warga lokal
ILUSTRASI. Rombongan Jeep di padang Savana menghantar pengunjung menuju Gunung Bromo./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/19/09/2019.

KONTAN.CO.ID - MALANG. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selalu menjadi favorit wisatawan saat mengunjungi Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ada sejumlah pintu utama yang bisa dilalui wisatawan untuk datang ke taman nasional yang didirikan sejak tahun 1982 ini

Pintu utama itu juga merupakan wilayah penyangga kawasan TNBTS yakni Lumajang, Probolinggo, dan Malang.

Tim Jelajah Ekonomi Pariwisata KONTAN kali ini memasuki kawasan TNBTS melalui Desa Gubugklakah dan Desa Ngadas. Keduanya merupakan bagian dari Kecamatan Poncokusumo yang juga masih masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Malang.

Baca Juga: Malang bersolek demi ambisi menjadi jantung pariwisata di Jawa Timur

Letak kedua desa itu sejatinya saling berdampingan. Bedanya, letak geografis Gubugklakah lebih rendah dibanding Ngadas.

Sepanjang perjalanan dari Gubugklakah hingga Ngadas terdapat banyak spot menarik yang bisa dikunjungi. Salah satunya, Coban Pelangi. Jika beruntung, pengunjung bisa menikmati pemandangan air terjun lengkap dengan pelangi hasil pembiasan cahaya matahari yang bertemu dengan butiran air dari air terjun tersebut.

Lanjut ke Ngadas, pengunjung harus siap dengan suhu yang sangat dingin. Namun, hawa dingin itu terbayar oleh pemandangan yang indah.

Tak jauh dari puncak Ngadas, hamparan savana Gunung Bromo terlihat. Tak jarang, kabut tebal menyelimuti kawasan ini. Sehingga, banyak orang yang menyebut Desa Ngadas adalah desa di atas awan.

Infrastruktur jalan sepanjang perjalanan ini bisa dibilang layak untuk dilalui. Hanya saja, lebar jalan tergolong kecil. Sehingga, KONTAN sempat beberapa kali berhenti ketika berpapasan dengan kendaraan lain.

Baca Juga: Kawah Bromo ternyata masih banyak menyimpan cerita misterius

Maklum saja, memasuki Ngadas, sisi jalan berbatasan langsung dengan bibir tebing. Agak sulit jika dilakukan pelebaran jalan.

Namun, jangan khawatir. Volume kendaraan sepanjang jalur ini tidak ramai. Sebab, hanya kendaraan hardtop yang diizinkan masuk ke kawasan ini. Kalau pun ada kendaraan pribadi selain hardtop, itu merupakan penduduk desa setempat. Sehingga, papasan yang memaksa kendaraan untuk berhenti tidak terlalu sering.

Lantas, apakah mobil selain hardtop dan bukan warga setempat bisa masuk?


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, Dityasa H Forddanta, Jane Aprilyani
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×